PPDP

TONGGAK-TONGGAK SEJARAH PAROKI SANTO ALFONSUS NANDAN

Awal Karya Misi hingga Kring Nandan (th 1936 sd th 1980)
Awal berkembangnya umat Katolik di wilayah desa Nandan dan sekitarnya dimulai dari baptisan pertama pada tahun 1936 oleh Pastor Paroki Mlati. Ketika itu wilayah yang sekarang disebut Paroki St. Alfonsus de Liguori ini sebagian masuk dalam paroki Kotabaru, sebagian masuk Paroki Mlati dan sebagian ada yang masuk Paroki Kumetiran. Umat semakin bertambah dan berkembang bersama romo-romo yang berkarya di Paroki Mlati karena kring Nandan waktu itu masih menjadi bagian dari Paroki Mlati.

Pembinaan iman secara lebih intensif dan kontinyu dilakukan oleh bruder-bruder Karitas (FC) yang hadir sekitar tahun 1960 di Nandan dan mendirikan komunitas bruder Karitas pada tahun 1961. Berdirinya Komunitas Bruder Karitas Nandan adalah atas persetujuan Mgr. Soegijapranata SJ, Uskup Agung Semarang. Waktu itu Bapak Uskup menganjurkan agar Bruder Karitas membuka sekolah.
Pembangunan Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Karitas mulai dirintis tahun 1962. Proses belajar mengajar SD Karitas mulai beroperasi tanggal 1 September 1963 dengan meminjam rumah keluarga Bapak Pawiro Suwignyo (yang terletak di sebelah timur gedung SD Karitas Nandan sekarang) karena gedung sekolah belum selesai dibangun. Setelah itu berturut-turut dibuka sekolah TK dan SMP untuk menampung lulusan SD Karitas.

Ada 10 orang Bruder Karitas yang datang untuk merintis karya pendidikan di Nandan dipimpin oleh Bruder Gabinus, FC. Pada saat para bruder datang di Nandan, telah ada beberapa keluarga katolik di lingkungan ini, antara lain : keluarga Santoso, Ibu Yuniati, keluarga Sunarjo, keluarga Darsono dan keluarga Sastrohartono.

Kehadiran Bruder Karitas dan SD Karitas itu mempunyai dampak sangat positif terhadap pertumbuhan umat Katolik di Nandan dan sekitarnya. Melalui pembinaan para Bruder Karitas dan para Katekis, umat Katolik mengalami pertumbuhan dan perkembangan sehingga jumlah umatnya semakin bertambah banyak. Pada awal 1963 umat di Nandan berkembang menjadi sebuah Kring yang disebut Kring Karitas Nandan di bawah reksa pastoral Paroki Santo Aloysius Gonzaga, Mlati yang pada waktu itu Romo Wignyomartoyo, Pr sebagai Pastor Parokinya. Pada tahun 1968 penggembalaan umat Kring Karitas Nandan diserahkan kepada Romo YB. Mangunwijaya, Pr., yang pada waktu itu tinggal di Pastoran Jetis, sehingga reksa pastoralnya ikut Paroki Jetis.

Periode tahun 1968 sampai dengan tahun 1976 di bawah bimbingan Romo YB. Mangunwijaya, Pr., Kring Karitas Nandan banyak mengalami perkembangan dan perubahan. Perubahan yang paling penting adalah pengurangan keterlibatan Bruder Karitas, dengan tujuan mendewasakan umat agar mandiri. Tokoh-tokoh awam yang membantu Rm. Mangun adalah Bpk. T. Parmin Sukardi, Bpk Sugiran, Bpk Dwijasumarta. Pelajaran agama calon baptis yang semula dilaksanakan oleh para Bruder selanjutnya dilaksanakan oleh guru agama dari umat. Guru-guru agama pada permulaan adalah Bapak E. Krisdiharjo, Bapak FA. Susanto, Bapak FC. Untung Sunaryo, Bapak Y. Ponijo , Ibu N. Lukito, Bapak YB. Poniran, Ibu YM. Sumitri, Bapak YS. Sugito. Guru-guru agama diberi pembekalan oleh Romo YB. Mangunwijaya, Pr . sebulan sekali. Demikian pula pelayanan peribadatan yang semula setiap sembahyangan selalu dipimpin oleh Bruder, harus dipimpin oleh umat. Sebagai penanggungjawab karya pastoral di Nandan, Romo Mangun berusaha agar Kring Karitas Nandan berkembang semakin mandiri. Keberadaan Bruderan Karitas dan Wisma Sang Penebus jangan sampai menjadi gantungan umat tetapi justru sebagai potensi yang mendorong perkembangan iman umat. Romo Mangun berpesan, “Gereja jangan lupa pada kaum miskin. Gereja Nandan jangan mengubah jati dirinya menjadi gereja priyayi, borjuis, kapitalis. Yang penting kualitas, bukan hanya kuantitas, karena sekarang bukan menambah garam, tetapi menjadi garam yang sungguh”.

Karena jumlah umat Kring Karitas Nandan semakin bertambah banyak, maka untuk memudahkan pengurusan dan pelayanan yang lebih baik, Kring Karitas dibagi menjadi 5 (lima) blok yang sekarang disebut wilayah. Lima blok tersebut adalah :
  1. Blok Barat, meliputi dusun : Jetis, Gedongan, Patran, Kutu Raden, Kutu Tegal
  2. Blok Tengah, meliputi dusun : Gemawang, Nandan, dan Mranggen
  3. Blok Timur, meliputi dusun : Pogung Dalangan, Pogung Lor, Pogung Kidul, Pogung Rejo
  4. Blok Utara, meliputi dusun : Tegalwaras, Tegalsari, Jongkang, Panggungsari, Nglempongsari.
  5. Blok Selatan, Meliputi dusun : Karangjati, Ngemplak, Karanganyar, Mesan, Kutu Dukuh, Kutu Wates, Rogoyudan, Kragilan.
Setiap blok memiliki susunan pengurus yang sama dengan susunan pengurus Kring. Blok-blok menjadi kelompok basis yang menjadi kekuatan bagi perkembangan umat Kring Karitas Nandan. Umat dibagi dalam blok untuk menumbuhkan KELOMPOK BASIS GEREJA di mana umat saling meneguhkan, saling menolong dalam mendalami iman katolik, bersama-sama beribadat dan mendalami iman Katolik, dan memberi kesaksian bersama kepada masyarakat dusun dengan paguyuban yang baik, dll.

Pada awalnya kegiatan peribadatan para Bruder Karitas diadakan pada sebuah kapel sementara yang dibuat di salah satu ruangan yang sekarang untuk kantor SMP Karitas . Para Bruder tinggal di ruang-ruang yang sekarang untuk SMP Karitas. Dari waktu ke waktu ada umat yang ikut perayaan Ekaristi bersama para Bruder.

Pada tahun 1967 didirikan rumah biara di sebelah utara gedung sekolah dilengkapi dengan sebuah kapel yang cukup besar. Atas ijin Bruder umat Kring Karitas Nandan dapat mengikuti Perayaan Ekaristi di Kapel yang baru bersama para Bruder. Romo Al Wignyomartoyo memimpin Perayaan Ekaristi di Kapel Bruderan hanya tiap Minggu kedua tiap bulan. Perayaan Ekaristi pada hari-hari Minggu yang lain Pengurus Kring memohon bantuan dari Kolege Santo Ignatius Kotabaru dan Seminari Tinggi St Paulus Kentungan. Tahun 1967 barulah para Bruder menempati gedung biara karena pembangunan telah selesai beserta kapelnya. Kapel ini kemudian dipergunakan untuk kegiatan umat baik pada misa hari Minggu maupun pada hari-hari biasa. Karena kesehatan, Bruder Gabinus pulang ke Eropa dan digantikan oleh Bruder Alfonso Wiryotaruna,FC. Bruder inilah yang dapat disebut sebagai cikal bakal perintis karya kerasulan Bruder-bruder Karitas wilayah ini. Dengan tekun beliau memberikan pelajaran agama kepada para katekumen. Banyak orang di kring Nandan dan sekitarnya mengenal Kristus berkat Wulangan agama yang diberikan oleh Bruder Alfons. Dalam perkembangannya, peranan para Bruder Karitas untuk pembinaan rohani umat di Nandan sangat besar. Oleh karena itu kring Nandan pada waktu dulu disebut kring Karitas.

Pada tahun 1974 jumlah umat Katolik kring Karitas berkembang pesat mencapai sekitar 300 orang. Hal itu menyebabkan kapel Bruderan tidak lagi dapat menampung jemaat untuk merayakan Ekaristi. Untuk menyelenggarakan misa hari Raya Paskah dan Natal, digunakanlah aula dan halaman kompleks SD-SMP Karitas, yang terletak di sebelah selatan kapel Bruderan. Pada kenyatannya, kebutuhan akan adanya sebuah rumah ibadat sudah tidak dapat dihindari lagi.

Karena kring Nandan merupakan bagian dari Paroki Mlati, maka Misa hari Minggu dilayani oleh Romo-romo dari Paroki Mlati dan kadang-kadang dibantu oleh romo-romo dari Kolese St. Ignatius Kotabaru. Selain umat katolik di kring Nandan, misa tersebut juga diikuti oleh para katekumen seperti Wardani, Hernupadmi, Sutinem, Amani, Slamet, Juminten, Lastri, Ngatiyem, Sri Mawarni, Tatik, Sri Suwarni, Yaminem dan Jumilah. Mereka adalah katekumen angkatan pertama yang dibimbing oleh Bruder-bruder Karitas.

Sejak kehadiran komunitas CSsR tahun 1977 yang untuk sementara waktu dalam mengadakan peribadatan/misa mingguan menggunakan kapel Bruderan Karitas Nandan, perkembangan umat Katolik Kring Karitas Nandan menjadi semakin bertambah pesat. Di bawah bimbingan dan pembinaan para Pastor dan para Frater CSsR umat Katolik mengalami banyak kemajuan, terutama di bawah bimbingan Romo Willy Wagener CSsR. Kring Karitas Nandan berkembang terus dan mengalami peningkatan menjadi Stasi.

Periode Stasi Nandan (th 1980 sd th 2000)
Berkat bimbingan Romo Willy Wagener CSsR yang memiliki sifat kebapaan dan sangat dekat dengan umat, perkembangan umat Kring Karitas Nandan mengalami peningkatan pesat. Jumlah umat bertambah semakin banyak. Atas kesepakatan antara Romo Paroki Santo Aloysius Mlati Romo Suyadi, Pr dengan Romo Cokroatmojo, Pr Pastor Paroki Jetis, Kring Karitas Nandan diserahkan ke Paroki Albertus Agung Jetis Yogyakarta. Sejak itu Kring Karitas Nandan secara resmi menjadi bagian wilayah Paroki Jetis. Hal ini mempertimbangkan kemudahan dan efisiensi administrasi, karena banyak umat dan pengurus stasi Nandan yang bekerja di Kota Yogyakarta.
Pada bulan Januari 1980 Romo Paroki Jetis, Romo Cokroatmojo Pr menerima surat dari Keuskupan Agung Semarang Mgr Yustinus Kardinal Darmoyuwono yang menetapkan bahwa Kring Karitas Nandan ditingkatkan menjadi Stasi di bawah Paroki Jetis. Dan secara tertulis Romo Willy Wagener CSsR mendapat mandat sebagai Pastor Pembantu untuk Stasi Nandan. Membantu Rm Willy sewaktu masih sebagai Kring Karitas Nandan adalah Bpk. Poniran.
Gagasan umat Nandan untuk mempunyai gedung gereja sendiri didukung oleh Romo Wilhelm (Willy) Wagener, CSsR rektor pertama Wisma Sang Penebus. Tarekat Redemptoris (Congretio Sanctissimi Redemtoris/CSsR) membangun biara di dusun Gemawang tahun 1977. Romo Willy merupakan salah satu tokoh penting dalam proses pengembangan Gereja Nandan. Selama kurang lebih 15 tahun, Beliau secara aktif berperan dalam karya pelayanan pastoral dan pengembangan stasi Nandan.
Untuk merealisasikan gagasan pendirian gereja, tanggal 1 Januari 1981 Panitia pembangunan gereja dibentuk dan diketuai oleh Bapak Agustinus Dwidjajuwana, didampingi Rama Willy, Romo Mangun dan para Bruder Karitas. Seluruh umat Stasi Nandan bahu membahu, bekerja sama dan bekerja keras membangun gereja Nandan. Pada tahun 1991-1994, Ketua pembangunan gereja ini diteruskan oleh Bapak Ignatius Wintolo.
Langkah awal untuk mewujudkan angan-angan itu dimulai dengan mencari tanah untuk lokasi gedung gereja. Atas pendekatan bersama Romo Willy, panitia dapat membeli tanah milik Suster-suster Amal Kasih Darah Mulia (ADM) dengan luas sekitar 5.000 meter persegi, terletak di sebelah selatan ring road berseberangan dengan Monumen Yogya Kembali dengan harga Rp 5.000,- per meter, padahal harga pasaran saat itu sudah mencapai Rp 25.000,- per meter. Kemudian dibantu oleh para mahasiswa Fakultas Teknik UGM yang diketuai oleh bp. Andreas Triwiyono dan di bawah supervisi Romo Mangun, dibuatlah rencana bentuk bangunan dan anggarannya.
Meskipun rencana telah dimiliki, namun pembangunan belum dapat segera diwujudkan karena ijin bangunan dari Bupati Sleman belum turun. Bupati Sleman menganggap bahwa lokasi tersebut tidak tepat untuk dibangun sebuah gereja karena sangat berdekatan dengan masjid. Untuk mengatasi hal itu, pada tanggal 22 Desember 1987, panitia pembangunan menukar tanah milik umat stasi Nandan dengan tanah milik Bruderan yang terletak di desa Gemawang, tempat berdirinya gereja Nandan sekarang ini. Setelah melalui pembicaraan yang cukup lama akhirnya pada tanggal 25 Maret 1988 dicapai kesepakatan bahwa tanah milik umat Stasi Nandan seluas 7.511 m2 ditukar dengan tanah milik bruder seluas 9.804,20 m2. Dengan selesainya masalah tanah ini, maka usaha mengurus perijinan dilanjutkan. Ijin pembangunan gereja Nandan dari bupati dikeluarkan. Pada tahun 1988 pembangunan gereja dimulai dan membutuhkan dana Rp 160 juta. Kebutuhan dana yang besar ini dapat dipenuhi berkat upaya yang luar biasa dari panitia dan umat Stasi Nandan, sehingga gedung Gereja yang diimpikan akhirnya bisa terwujud. Benar-benar ini adalah suatu proyek membangun bersama Allah!.
Gereja dibangun dengan swadaya umat berkat kerja sangat keras panitia pembangunan bersama dengan seluruh umat. Akhirnya proses pembangunan gereja Nandan selesai juga. Gereja Nandan yang megah itu pada tanggal 1 Agustus 1996 diberkati oleh Romo Yohanes Harjaya, Pr selaku Administrator Diosesan Keuskupan Agung Semarang karena KAS mengalami sede vacante.
Santo Alfonsus Maria de Ligouri dipilih sebagai pelindung Gereja Nandan dengan beberapa alasan, yakni :
  1. Umat Nandan berkembang secara mengagumkan berkat ketekunan Bruder-Bruder Karitas dalam melaksanakan tugas perutusannya. Karya kerasulan itu dirintis oleh Bruder Alfonso Wiryataruna FC, St. Alfonsus dipilih untuk mengenang beliau sebagai perintis umat Katolik Nandan.
  2. Alfonsus Maria de Liquori adalah pendiri Konggregasi Romo-Romo Redemptoris. Karya pelayanan pastoral dari Romo dan Frater Redemptoris telah banyak membantu berkembangnya Paroki Nandan
Periode Paroki Administratif (th 2000 sd th 2012)
Sejak tahun 2000 status stasi Nandan berubah menjadi Paroki Administratif. Paroki Administratif adalah persekutuan paguyuban-paguyupan umat beriman sebagai bagian dari Keuskupan dalam batas-batas wilayah tertentu yang Pastor Kepalanya masih dijabat oleh Pastor Kepala Paroki (PDDP pasal 4 ayat 2). Paroki administratif ini memiliki 18 lingkungan.

Sejalan dengan perkembangan Gereja Nandan baik dari segi kuantitatif maupun kualitatif makin terasa membutuhkan pelayanan pastoral yang optimal. Untuk itu dirasa perlu adanya seorang imam yang secara penuh melayani umat di Nandan. Selama ini pelayanan pastoral dilayani dari Jetis. Romo Paroki Jetis merangkap sebagai Romo Paroki Administratif Nandan, dan berdomisili di pastoran Jetis, karena Nandan memang belum memiliki pastoran. Pastor kepala paroki Jetis saat itu adalah romo Ch. Sutrasno, Pr. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan umat, maka diputuskanlah untuk membangun gedung pastoran sebagai satu langkah yang diperlukan menuju paroki mandiri. Pada tahun 2000 Pengurus Dewan Paroki Administratif Nandan membentuk panitia pembangunan gedung pastoran yang diketuai oleh Bapak Stefanus Wasieno Setyo Budiono.

Peletakan batu pertama pembangunan pastoran dilakukan pada perayaan pesta nama Santo Alfonsus tahun 2002 oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Ignatius Suharyo. Penyusunan rencana pembangunan dilakukan oleh umat Nandan yakni Ir. Marcelianus Purnomo Harto, Dr Eng. Ir Andreas Triwiyono, Ir A.M. Eko Santoso, Ir M. Mertani, Drs Hening Swasono, Ignatius Wintolo serta dibantu oleh tim konsultan dari Universitas Atmajaya Yogyakarta yang dipimpin oleh Ir. Sinta Dewi . Pembangunan gedung pasturan menghabiskan biaya Rp 338.728.200,-. Untuk memenuhi kebutuhan dana ini panitia dan umat bekerja keras dengan berbagai upaya, diantaranya pencarian dana dengan menyelenggarakan Konser Suara Natal oleh umat Wilayah Selatan (St. Matius) yang dipimpin Bapak Raymond Panggabean yang dapat mengumpulkan dana sekitar Rp. 120.000.000,-. Pada ulang tahun paroki administratif ke 8, tepatnya tanggal 21 Agustus 2004, Gedung Pasturan diberkati oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Ignatius Suharyo.

Dengan keberadaan gedung pastoran, kegiatan-kegiatan pastoral di paroki administratif ini semakin berkembang, dan Keuskupan Agung Semarang merasa perlu memberikan gembala yang akan menetap dan mendiami gedung ini, meskipun masih di bawah wewenang Pastor Paroki yang tinggal di Jetis.

Pada tahun 2006 Romo Ignatius Jayasewaya Pr, setelah purna tugas sebagai Vikaris Episkopal Daerah Istimewa Yogyakarta ditugasi sebagai pastor pembantu Paroki Jetis dan bertugas khusus untuk menggembalakan umat dan tinggal di Paroki Administratif Santo Alfonsus Nandan.
Sejak adanya pastor yang menetap di Nandan kegiatan dan dinamika umat betul-betul berkembang. Sejak berdirinya gedung gereja dan pastoran maka pertumbuhan umat sangat pesat. Jumlah umat paroki ini pada tahun 2009 tercatat sekitar 738 KK dengan 2543 jiwa. Dalam rangka untuk membantu tugas pengembalaan Romo Ignatius Jayasewaya, Pr, maka pada tahun 2009 Keuskupan Agung Semarang menambah seorang romo lagi untuk menetap dan berkarya di paroki ini, yaitu Romo Antonius Triwahyono, Pr.

Dengan berkembangnya jumlah dan dinamika kegiatan umat, serta atas permintaan kaum muda yang merasa belum memiliki tempat layak untuk berekspresi dan beraktivitas, maka dibangunlah ruang pertemuan yang terletak diantara gedung pastoran dan gereja. Ruang pertemuan ini perencanaan dan pembangunannya melibatkan kaum muda menghabiskan dana sekitar Rp 35.000.000,- yang dibiayai dari solidaritas umat. Pada tahun 2009 ruang pertemuan selesai dibangun dan diberkati oleh Romo Willy Wagener, CSsR yang kebetulan merayakan pesta emas imamat. Oleh Romo Willy ruang ini diberi nama Panti Komunikasi dengan nama Santo Yohanes Don Bosco , seorang santo yang dikenal sebagai pelindung kaum muda.

Pada bulan Agustus 2010 , Romo Ignatius Jayasewaya Pr mendapatkan tugas baru di Seminari tinggi Kentungan. Tugas penggembalaan beliau di Paroki Administratif Santo Alfonsus Nandan diserahkan kepada Romo Gregorius Sulistiyanto, Pr yang sebelumnya bertugas di Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten.

Panti komunikasi ini menjadi ajang kegiatan tidak hanya kaum muda, tetapi juga anak-anak, Ibu-ibu dan Dewan Paroki. Bahkan pada bulan November 2010 pada saat Yogyakarta dan sekitarnya mengalami bencana erupsi gunung Merapi, Panti ini menjadi Posko penggalangan bantuan dan dapur umum yang mensuplai makanan (nasi bungkus) kepada para pengungsi dan relawan. Kegiatan ini diprakarsai dan dikelola kaum muda yang didampingi Romo Gregorius Sulistiyanto Pr.

Seiring dengan perkembangan akivitas umat yang menggunakan panti komunikasi, ditambah ada masalah berupa kebocoran atap panti dan bila hujan air masuk ke ruangan, serta adanya bantuan pemberian kerangka rumah joglo bekas ruang altar gereja Dirjodipuran Solo yang diterima Romo Antonius Triwahyono Pr, yang masih sangat baik kondisinya, maka Dewan Paroki memutuskan untuk merenovasi panti komunikasi dengan sebuah bangunan baru berbentuk joglo. Pada bulan Februari 2011 dimulai pembongkaran panti komunikasi dan diganti bangunan joglo seluas kurang lebih 200 meter persegi. Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan ini sekitar Rp 140.000.000,- , Biaya ini sebagian besar diperoleh dari umat dan sebagian kecil, sekitar Rp. 15.000.000,- dibantu oleh Keuskupan Agung Semarang. Joglo Paroki ini diresmikan penggunaannya oleh Romo Saryanto Pr, Vikep DIY pada hari Minggu tanggal 31 Juli 2011, dan diberi nama Joglo Antonio karena rumah joglo diberikan ke rm. Antonius Triwahyono, Pr.

Pertumbuhan dan perkembangan umat yang semakin banyak, dan umat di lingkungan Lusia Nandan sudah lebih dari 50 kk, maka atas inisiatif romo Sulistiyanto dan hasil diskusi dengan umat di lingkungan Lusia Nandan, pada tanggal 31 Juli 2011 lingkungan ini dimekarkan menjadi 2 yaitu lingkungan yaitu Lusia Nandan dan lingkungan Caecilia Nandan (umatnya adalah warga perumahan Nandan Griya Idaman). Dengan demikian, jumlah lingkungan menjadi 19 lingkungan.

Periode sebagai Paroki (th. 2012 sd sekarang)
Pada Tanggal 1 Agustus 2012, paroki administratif Nandan ditetapkan sebagai paroki mandiri dengan SK No. 0549/B/I/b-79/12. SK tersebut ditindaklanjuti dengan Perayaan syukur atas penetapan sebagai Paroki mandiri yang dirayakan secara meriah pada tanggal 4 Agustus 2012 bersamaan dengan perayaan Pesta paroki untuk merayakan pesta pelindung St. Alfonsus Maria de Liguori. Selain itu juga diselenggarakan penerimaan sakramen penguatan, pesta emas Imamat Rm. Joyosewaya Pr., dan pesta perak Imamat Rm. Triwahyono Pr. Misa syukur dirayakan bersama secara konselebrasi dengan 16 imam konselebran. Dalam misa syukur tersebut dilaksanakan penandatanganan berita acara sebagai paroki mandiri dan penandatanganan prasasti oleh Mgr. Yohanes Pujasumarta.

Romo Gregorius Kriswanta, Pr., sebagai Pastor Kepala Paroki pertama dengan SK no 0456/A/VIII/6/12 tanggal 20 Juni 2012 dan Romo Antonius Triwahyono sebagai pastor pembantu (SK no. 0721/A/VIII/6/12 tanggal 1 Agustus 2012), sedangkan Romo Gregorius Sulistiyanto, Pr., dipindahtugaskan ke Paroki Yohanes Rasul, Delanggu. Serah terima jabatan dari romo Sulistiyanto ke rm. Kriswanta secara simbolis dilaksanakan pada tanggal 5 Agustus 2012 bersamaan dengan misa syukur Mgr. Pius Riana Prapdi diangkat sebagai Uskup Ketapang, Kalimantan Tengah.

Dari peristiwa itu ditetapkan dua tanggal penting oleh rm. Kriswanta dalam reksa pastoralnya sebagai tonggak sejarah peristiwa iman, yaitu tanggal 1 Agustus 2012 untuk mengingat SK pendirian paroki dan tanggal 4 Agustus 2012 untuk mengingat misa syukur atas penetapan sebagai paroki mandiri. Untuk mengingat dua tanggal tersebut di paroki diadakan baptisan anak dan perbincangan iman bagi umat (BISA: Bincang Iman Santo Alfonsus) yang dapat dilaksanakan pada tanggal 1 atau 4 setiap bulan.

Karena kesehatan romo Triwahyono, sepulang dari rumah sakit Panti Rapih tanggal 24 Agustus 2012, beliau memutuskan untuk tinggal di Domus Pacis Pringwulung dan mendapat SK kepindahan dari uskup no. 015/A/VIII/6/13, sehingga selama beberapa bulan romo Kriswanta melayani seorang diri.
Pada ulang tahun Paroki yang pertama, dirayakan pada hari Minggu tgl 4 Agustus 2013, ditandai dengan pemekaran lingkungan St. Antonius Tegalwaras menjadi lingkungan st. Antonius Tegalwaras dan St. Christophorus Bendosari. Pengurus lingkungan dilantik pada perayaan Ekaristi ulang tahun Paroki. Jumlah lingkungan Paroki St. Alfonsus menjadi 20 lingkungan.

Kerjasama dan komunikasi antara romo Paroki dan umat semakin terbangun dengan adanya misa lingkungan yang rutin terjadwal. Sebelum misa lingkungan, dilakukan kunjungan ke umat lingkungan, minimal 3 kk dengan diantar ketua lingkungan dan pengurus dewan.

Setelah hampir satu tahun romo Kris berkarya sendirian di Paroki S. Alfonsus, akhirnya dalam tahbisan imam tgl. 7 Oktober 2013 Paroki st. Alfonsus Nandan mendapatkan tambahan romo baru, yaitu Romo Vincentius Yudho Widianto, Pr., dengan SK no. 0910/A/VIII/6/13 tanggal 7 Oktober 2013. Perkenalan dan penyambutan sebagai Vicarius Parocialis (pastor pembantu) dilaksanakan tanggal 26 dan 27 Oktober 2013. Romo Yudho diserahi tanggungjawab khusus untuk mendampingi kaum muda, remaja, anak-anak, dan misdinar disamping tugas umum lainnya.

Kegiatan semakin banyak dan aktivitas umat semakin bertambah, ruangan yang ada dirasa kurang. Maka untuk memenuhi kebutuhan tersebut serta memperhatikan masukan dari Tim Supervisi KAS, didirikan bangunan baru berupa limasan yang berada di sebelah barat pastoran. Bangunan ini semi permanen karena saat itu masterplan belum ditetapkan, sementara masterplan yang dimiliki perlu ditinjau kembali. Limasan ini diresmikan tanggal 26 Januari 2014 oleh romo G. Kriswanta dan diberi nama limasan Gregorio untuk mengingat nama romo Gregorius Sulistiyanto yang menerima usulan dan dilaksanakan pembangunannya oleh romo Gregorius Kriswanta sekaligus sebagai tim supervisi yang memberi saran atas bangunan tersebut untuk kepentingan dewan paroki.

Pada ulang tahun Paroki kedua tahun 2014 ditandai dengan pergantian pengurus Dewan Paroki dan pengurus lingkungan. Pengurus baru ini dilantik pada perayaan Ekaristi dipimpin oleh romo Saryanto selaku Vikep DIY yaitu pada hari Minggu, 3 Agustus 2014, dengan masa bakti 2014-2017. Ulang tahun kedua ini juga ditandai dengan penerimaan sakramen penguatan pada hari Minggu, 10 Agustus 2014 oleh Mgr. Yohanes Pujosumarta untuk 39 penerima.

Pada tanggal 8 Januari 2015, romo Yudho menerima SK (no. 1084/A/VIII/6/14 tanggal 22 Desember 2014) pindah tugas ke Paroki Santa Maria Kartasura, dan digantikan oleh romo Yohanes Dwiharsanto, Pr. (SK no. 1077/A/VIII/6/14). Pisah sambut romo Yudho dan romo Santo dilaksanakan di joglo Antonio tgl 25 Januari 2015. Romo Dwiharsanto selain mendapat SK sebagai vicarius parocialis juga mendapat tugas (SK no. 1095/A/VIII/6-a/14) untuk mempersiapkan AYD (Asian Youth Day 2017) yang akan diselenggarakan di Yogyakarta. Rm Santo diserahi tugas melanjutkan apa yang telah dimulai oleh romo Yudho, lebih-lebih kaitannya dengan AYD, mendampingi OMK.

Kehadiran vicarius parocialis berpengaruh secara signifikan. Pendampingan umat semakin intensif dan dinamika umat semakin menggeliat. Dewan paroki harian dan bidang-bidang mulai dapat menyelenggarakan rapat secara rutin. Bahkan rapat pengurus lingkungan pun mulai diselenggarakan. Di samping itu, forum ketua lingkungan tergarap dengan intensif dan disusul adanya paguyuban sekretaris lingkungan.

Pada ulang tahun paroki ketiga dirayakan pada hari Minggu tanggal 2 Agustus 2015, ditandai dengan pemekaran lingkungan Gemawang menjadi dua: lingkungan Wilhelmus Gemawang dan Lingkungan St. Pius Gemawang. Selain itu ditandai pula live in bruder, suster, dan frater dalam rangka memanfaatkan peristiwa tahun hidup bakti. Pada tahun ini pula, Romo Dwiharsanto mendapat SK baru (SK no. 0742/A/VIII/6/15 tanggal 5 Agustus 2015) sebagai pastor kepala di paroki SP Maria Tak Bercela Kumetiran. Dengan demikian romo Santo berpindah tempat tinggal dari pastoran Nandan ke pastoran Kumetiran.

Sampai terbentuknya PPDP ini paroki Nandan memasuki usianya yang ke 4. Paroki ini telah memiliki badan hukum tersendiri dengan akte pendirian no. 7, tanggal 4 Oktober 1982, notaris: S. Siswadi Aswin SH, dengan Nama Yayasan Gereja Papa Miskin. Kemudian berdasarkan SK Men. Keh. RI., No: M-20-HT 03.05 – Th. 1990, tanggal 4, nama yayasan diganti menjadi Pengurus Gereja Papa Miskin dengan Akta perubahan no 28 tanggal 23 Maret 2001, Notaris: Angelique Tedjajuwana S.H., dengan nama Pengurus Gereja Dan Papa Miskin Room Katolik di Wilayah Gereja Santo Alfonsus Di Nandan, Yogyakarta.

Pertumbuhan umat secara umum dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 1. Pertumbuhan Umat sejak masih Stasi dan kini menjadi Paroki St Alfonsus Nandan dari Tahun 1979-2014



REKSA PELAYANAN PASTORAL PAROKI NANDAN
Umat Paroki Nandan mencita-citakan diri sebagai Gereja yang signifikan dan relevan bagi warga dan masyarakat di setiap zamannya dengan mengikuti Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah. Mengikuti Yesus Kristus menegaskan semangat misioner Gereja yang mengambil pola dan semangat Yesus Kristus yang hadir dan berkarya demi kerajaan Allah.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut Paroki Nandan mengembangkan aspek pastoral meliputi:
  1. Pengembangan iman yang tangguh dan mendalam.
  2. Peningkatan peran awam di bidang sosial, politik, dan ekonomi.
  3. Pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel.
  4. Pelestarian keutuhan ciptaan.
  5. Sukacita karena Injil.
Pengembangan iman yang mendalam dan tangguh menjadi landasan spiritualitas Paroki
yang menekankan aspek relasional dengan Allah melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Relasi dengan Allah dibangun melalui doa, devosi, dan perayaan sakramental sebagai jiwa dan semangat dasar hidup dan gerak Paroki. Sedangkan peningkatan peran awam dalam aneka bidang kehidupan, pemberdayaan KLMTD serta pelestarian keutuhan ciptaan menjadi perwujudan nyata dari perutusan Paroki dalam karya keselamatan Allah. Keselamatan bukan hanya peristiwa rohani tetapi juga peristiwa yang menyentuh realitas hidup konkret umat manusia. Cita-cita tersebut mendapat perwujudannya di lingkungan-lingkungan sebagai persekutuan umat beriman yang lebih intensif. Di dalam paroki yang terdiri dari lingkungan-lingkungan inilah, spiritualitas dan perutusan Gereja dapat dilihat dinamikanya dan dirasakan dampak dan buahnya.

Skema kepemimpinan pelayanan pastoral paroki

Paroki Nandan mewujudkan cita-citanya dengan mengembangkan kepemimpinan yang partisipatif, transformatif, empowering dan sinergis, dengan tetap mengedepankan semangat pelayanan yang rendah hati dan murah hati. Tanggung jawab kepemimpinan pelayanan pastoral paroki ada pada Pastor Paroki. Ia adalah gembala parokinya sendiri, menunaikan reksa pastoral jemaat di bawah otoritas Uskup Diosesan, menjalankan tugas-tugas mengajar, menguduskan, dan memimpin bagi jemaat itu dengan bekerjasama dengan imam-imam lain serta kaum beriman kristiani awam menurut norma hukum (bdk. Kan. 519).

Dalam menjalankan kepemimpinannya, Pastor Paroki dapat dibantu oleh Vikarius Parocialis/ pastor pembantu jika ada (kan. 545), dan juga kaum awam kristiani dengan peranan khasnya (kan.529 - §2). Peranan kaum awam terutama dikembangkan dalam menyelenggarakan reksa pastoral lewat kepengurusan dewan paroki, kepengurusan lingkungan-lingkungan, dan juga prodiakon paroki.

Dengan demikian Pastor Paroki menjalankan kepemimpinannya secara partisipatif dengan melibatkan pastor pembantu, diakon jika ada, dan orang beriman awam. Dengan kata lain, dalam kaitannya dengan paroki, kepemimpinan kaum awam adalah mengambil bagian dalam kepemimpinan Pastor Paroki, yang dilandasi dengan semangat ketaatan dan kerjasama berdasarkan Injil.

Skema tata kelola pelayanan pastoral paroki

Dalam menjalankan pelayanan untuk umat beriman yang bersekutu di lingkungan-lingkungan, Pastor Paroki bersama Vikaris Paroki dibantu oleh wakil ketua awam, sekretaris, bendahara, ketua-ketua bidang, dan ketua-ketua lingkungan yang sama-sama bertindak sebagai Dewan Paroki.

Untuk melengkapi dan mengefektifkan pelayanannya, Pastor Paroki dapat membentuk tim-tim khusus yang menjalankan tugas khusus dan sangat terbatas dan dalam jangka waktu yang terbatas pula. Tim-tim itu antara lain: Tim Perumus PPDP, Tim Masterplan, Tim Peduli Pengembangan dan Perawatan Gedung Gereja, Internal Verifikasi Penyaluran Dana Papa Miskin, Tim Pecinta Tanaman dan Bunga Hidup.

Semua yang bekerjasama dan terlibat dalam pelayanan pastoral tersebut ditata sedemikian rupa dalam sebuah tata kelola pelayanan pastoral dengan mengedepankan semangat communio dan sinergi. Tentu masing-masing yang terlibat tetap menyadari kesatuan geraknya dengan cita-cita paroki dan partisipasi dalam pelayanan Pastor Paroki.

Paroki: Fokus, Locus, dan Subjek Pelayanan Pastoral
Paroki ialah komunitas kaum beriman kristiani tertentu yang dibentuk secara tetap dalam Gereja partikular, yang reksa pastoralnya, di bawah otoritas Uskup Diosesan, dipercayakan kepada Pastor Paroki sebagai gembalanya sendiri (Kan. 515 - § 1), dan pada umumnya paroki hendaknya bersifat teritorial, yakni mencakup semua orang beriman kristiani wilayah tertentu (bdk. Kan. 518).

Berpijak pada kanon tersebut, fokus dan locus pelayanan pastor paroki adalah semua umat beriman yang bersekutu di wilayah paroki tersebut. Seluruh pelayanan pastor paroki mendapat perwujudan dan realisasinya di paroki. Paroki bukan pertama-tama lembaga, tetapi persekutuan umat beriman, dengan segala keprihatinan dan harapannya, dengan segala pengalaman suka dan dukanya.

Paroki menjadi fokus pastoral artinya paroki yang merupakan persekutuan umat beriman menjadi arah dan tujuan pastoral oleh pastor sebagai gembalanya sendiri di bawah otoritas Uskup Diosesan. Maka seluruh potensi komponen pelayanan pastoral tingkat keuskupan dan segala macam program diarahkan untuk kepentingan umat beriman yang bersekutu di paroki. Tujuannya agar umat semakin diberdayakan dalam aneka aspek kehidupan sampai mengalami tata keselamatan dalam kehidupannya. Transformasi dan perubahan hidup umat ke arah yang lebih baik menjadi indikasi keberhasilan sebuah pelayanan pastoral.

Paroki menjadi locus pastoral artinya paroki menjadi tempat dimana seluruh gerak pastoral itu terjadi menyapa dan menyentuh umat secara langsung. Sebagai locus, dinamika umat perlu dikenali sehingga seluruh pelayanan pastoral disesuaikan dengan keadaan dan dinamika umat beriman setempat.

Paroki menjadi subjek pastoral artinya paroki bukan sebagai proyek pelayanan pastoral, yang menjadikan umat hanya sebagai sasaran pastoral. Paroki tetaplah sebagai subjek dan pelaku yang menentukan gerak pastoral. Segala macam pelayanan pastoral berfungsi animatif, inspiratif dan partisipatif untuk mendukung dan menggerakkan dinamika umat di paroki dengan umat sebagai pelayannya sendiri. Program-program pelayanan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan umat paroki yang ditawarkan untuk kepentingan umat juga. Untuk mendukung hal tersebut pastoral berdasarkan data perlu dikembangkan.

Bersama dengan umat paroki, seluruh gerak dan pelayanan pastoral didasarkan pada visi keuskupan, yakni mengikuti Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dengan mewujudkan Gereja yang signifikan dan relevan bagi warganya dan masyarakat.

Dalam melaksanakan tugasnya sebagai gembala, Pastor Paroki terikat kewajiban-kewajiban sebagai berikut: mengusahakan agar sabda Allah diwartakan secara utuh kepada orang-orang yang tinggal di paroki; maka hendaknya ia mengusahakan agar kaum beriman kristiani awam mendapat pengajaran dalam kebenaran-kebenaran iman, terutama dengan homili yang harus diadakan pada hari-hari

Minggu dan hari-hari raya wajib, dan juga dengan memberikan pembinaan kateketik, dan hendaknya ia membina karya-karya untuk mengembangkan semangat Injili, juga yang menyangkut keadilan sosial; hendaknya ia memperhatikan secara khusus untuk pendidikan katolik anak-anak dan kaum muda; hendaknya ia dengan segala upaya, juga dengan melibatkan bantuan kaum beriman kristiani, mengusahakan agar warta Injil menjangkau mereka juga yang meninggalkan praktek keagamaannya atau tidak memeluk iman yang benar (Kan. 528 - §1).

Selain itu juga hendaknya mengusahakan agar Ekaristi Mahakudus menjadi pusat jemaat parokial kaum beriman; hendaknya ia berikhtiar agar kaum beriman kristiani digembalakan dengan perayaan khidmat sakramen-sakramen, dan secara khusus agar mereka sering menerima sakramen Ekaristi Mahakudus dan tobat; hendaknya ia juga berupaya agar mereka dibimbing untuk mengadakan doa juga dalam keluarga dan dengan sadar serta aktif mengambil bagian dalam liturgi suci yang harus diarahkan Pastor Paroki di parokinya di bawah otoritas Uskup Diosesan; dan ia wajib menjaga agar jangan timbul penyalahgunaan (Kan. 528 - §2).

Paroki Nandan memiliki dua tanggal penting untuk mengingat peristiwa bersejarah berkaian dengan pendirian paroki mandiri. Tanggal 1 Agustus merupakan pesta pelindung Santo Alfonsus sekaligus SK Keuskupan untuk Paroki Nandan sebagai paroki mandiri. Tanggal tersebut telah lama digunakan untuk perayaan iman oleh umat. Kemudian tanggal 4 Agustus merupakan tanggal perayaan syukur dan pemberkatan oleh uskup Mgr J. Pujasumarta, Nandan sebagai paroki mandiri ditandai dengan adanya penandatanganan berita acara dan prasasti. Untuk mengingat-ingat kedua tanggal tersebut, maka setiap bulan diadakan perayaan dan pewartaan iman yang dijatuhkan pada tanggal 1 atau 4.

Dari kedua tanggal tersebut, dipilih tanggal yang tidak bertepatan dengan Misa di gereja: Jumat Pertama, Sabtu, atau Minggu. Dalam rangka perayaan iman, diselenggarakan baptisan anak, sedangkan pewartaan iman diselenggarakan dalam bentuk pengajaran perbincangan iman yang disebut BISA (Bincang Iman Santo Alfonsus). Khusus bulan Agustus diadakan pesta meriah bagi umat. Mengenai sapaan kepada umat diagendakan misa lingkungan yang didahului dengan kunjungan keluarga, dijadwalkan setahun 4 (empat) kali. Diharapkan dengan perayaan dan pewartaan iman tersebut, umat dapat selalu mengingat peristiwa bersejarah berkaitan dengan pendirian paroki mandiri.
BAB I
PERSEKUTUAN UMAT BERIMAN
Pasal 1
Paroki
  1. Paroki adalah persekutuan umat beriman kristiani di daerah Nandan dan sekitarnya yang dibentuk secara tetap oleh Uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS) dengan Surat Keputusan Pendirian Paroki Nomor 0549/B/I/b-79/12 tanggal 1 Agustus 2012, reksa pastoralnya berada di bawah otoritas Uskup Diosesan dipercayakan kepada pastor paroki sebagai gembalanya sendiri dan diberi nama Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang.
  1. Penyebutan nama Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang menunjukkan bahwa perkembangan dinamika umat awal berada di Dusun Nandan, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, sementara bangunan gereja dan alamat paroki berada di Dusun Gemawang, Sinduadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
  1. Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang terletak di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Teritorinya mencakup 2 (dua) kelurahan dari 2 (dua) kecamatan di Kabupaten Sleman yaitu sebagian Kelurahan Sinduadi dan Kelurahan Sendangadi Kecamatan Mlati serta sebagian Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik.
  1. Batas area teritori Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang adalah sebagai berikut :
a. Batas wilayah pemerintahan
Sebelah utara                            : berbatasan dengan Kelurahan Sardonoharjo dan Sinduharjo
Sebelah timur                           : berbatasan dengan Kelurahan Catur Tunggal
Sebelah selatan                        : berbatasan dengan Kelurahan Cokrodiningratan
Sebelah barat                            : berbatasan dengan Kelurahan Sendangadi
b. Batas wilayah gerejani
Sebelah utara                            : berbatasan dengan Paroki Santo Aloysius Gonzaga di Mlati
Sebelah timur                           : berbatasan dengan Paroki Keluarga Kudus di Banteng
Sebelah tenggara                    : berbatasan dengan Paroki Santo Antonius di Kotabaru
Sebelah selatan                        : berbatasan dengan Paroki Santo Albertus Magnus di Jetis
Sebelah Barat                           : berbatasan dengan Paroki Hati Santa Maria Tak Bercela di Kumetiran dan Paroki Santo Aloysius Gonzaga di Mlati

Pasal 2
Wilayah
  1. Wilayah adalah Persekutuan lingkungan-lingkungan di teritori Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang yang secara territorial berdekatan dengan jumlah 3 – 5 lingkungan dan berada dalam tata kelola serta reksa pastoral Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang yang pembagiannya diatur dalam Surat Keputusan Pendirian Paroki Nomor 0549/B/I/b-79/12.
  2. Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang terdiri dari 5 (lima) Wilayah yakni:
    1. Wilayah Santo Yosef Utara
    2. Wilayah Santo Vincentius Timur
    3. Wilayah Santo Mateus Selatan
    4. Wilayah Santo Fransiskus Xaverius Barat
    5. Wilayah Santo Petrus Paulus Tengah
  1. Setiap wilayah dikoordinir oleh Ketua Wilayah yang merupakan salah satu Ketua Lingkungan dari wilayah tersebut yang dipilih secara musyawarah oleh Ketua-ketua Lingkungan di wilayah tersebut.

Pasal 3
Lingkungan
  1. Lingkungan adalah paguyuban umat beriman yang termasuk dalam teritori Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang yang bersekutu berdasarkan kedekatan tempat tinggal dengan jumlah antara 10 (sepuluh) sampai dengan 40 (empatpuluh) kepala keluarga dan berada dalam tata kelola serta reksa pastoral paroki
  1. Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang mempunyai 21 (dua puluh satu) lingkungan yang dikelompokkan dalam wilayah yakni :
a.Wilayah Santo Yosef Utara, meliputi :
  • Lingkungan Santa Anna Jongkang Baru
  • Lingkungan Santo Antonius Tegal Waras
  • Lingkungan Santo Christophorus Bendosari
  • Lingkungan Santo Ignatius de Loyola Nglempongsari
  • Lingkungan Santa Perawan Maria Tak Bernoda Jongkang Lama
b. Wilayah Santo Vincentius Timur, meliputi :
  • Lingkungan Santo Antonius Abbas Pogung Dalangan
  • Lingkungan Santo Lukas Pogungrejo
  • Lingkungan Santa Monica Pogung Kidul
c. Wilayah Santo Mateus Selatan, meliputi :
  • Lingkungan Santo Agustinus Mesan
  • Lingkungan Santo Demetrius Kutu Dukuh
  • Lingkungan Santa Martha Karangjati
  • Lingkungan Santo Ignatius Rogoyudan
d. Wilayah Santo Fransiskus Xaverius Barat, meliputi :
  • Lingkungan Santa Brigitta Jetis
  • Lingkungan Santa Elisabeth Gedongan
  • Lingkungan Santa Maria Kutu Tegal
  • Lingkungan Santo Petrus Kutu Patran
e. Wilayah Santo Petrus Paulus Tengah, meliputi :
  • Lingkungan Santa Caecilia Nandan
  • Lingkungan Santa Lucia Nandan
  • Lingkungan Santo Petrus Kanisius Mranggen
  • Lingkungan Santo Pius Gemawang
  • Lingkungan Santo Wilhelmus Gemawang
  1. Setiap lingkungan dipimpin oleh Ketua Lingkungan yang dipilih dari umat yang tinggal di lingkungan tersebut oleh seluruh umat yang ada dalam teritori lingkungan tersebut. Dalam menjalankan tugasnya Ketua Lingkungan dibantu oleh Sekretaris, Bendahara, Tim Liturgi dan Peribadatan, Tim Pewartaan dan Evangelisasi serta tim-tim kerja lain yang dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan lingkungan masing-masing.
  1. Demi pelayanan yang lebih intensif, lingkungan dapat dibagi dalam paguyuban– paguyuban yang lebih kecil dengan nama blok. Bila jumlah kepala keluarga dalam suatu lingkungan lebih dari 40 (empat puluh) kepala keluarga, lingkungan perlu dimekarkan.
  1. Pemekaran lingkungan didahului dengan permohonan dari lingkungan kepada Pastor Paroki atau atas pertimbangan strategis dewan paroki. Pastor Paroki dapat mengabulkan permohonan pemekaran lingkungan setelah melalui proses dialog
Pasal 4
Kelompok Kategorial
  1. Persekutuan umat beriman atas dasar kategori tertentu yang berbasis paroki yaitu seluruh anggota kelompok tersebut berdomisili dan aktif di Paroki serta berada dalam reksa pastoral paroki.
  1. Kelompok kategorial yang terdaftar di Paroki wajib menyampaikan susunan pengurus dan tujuan persekutuan tersebut.
  1. Kelompok kategorial yang terdaftar di paroki adalah sebagai berikut :
a. Legio Maria
b. Kelompok Meditasi Kristiani
c. Seni Slaka
d. Marriage Encounter (ME)
e. PS Vocalfonsia
f. PS Petra Voice
g. PS Cantate Domino
h. Warasemedi
i. Purnatugas
j. OMK
k. Ibu-Ibu paroki

BAB II
GEMBALA PAROKI
Pasal 5
Pastor Paroki (Parochus)
  1. Seorang imam yang diberi kepercayaan oleh Uskup KAS menjadi gembala untuk menjalankan reksa pastoral di Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang.
  2. Pastor Paroki diangkat secara resmi oleh Uskup KAS dengan Surat Keputusan.
  3. Pastor Paroki sebagai gembala paroki bertanggung-jawab atas seluruh reksa pastoral Paroki.
  4. Pastor Paroki (ex officio) menjabat Ketua Dewan Paroki dan Ketua Pengurus Gereja Papa Miskin (PGPM)
Pasal 6
Pastor Pembantu (Vicarius Paroecialis)
  1. Imam yang diberi kepercayaan oleh Uskup KAS untuk menjadi rekan kerja Pastor Paroki guna memberikan bantuan dalam seluruh pelayanan pastoral Paroki atau menjalankan sebagian kewenangan yang diberikan oleh Pastor Paroki.
  2. Pastor Pembantu diangkat secara resmi oleh Uskup KAS dengan Surat Keputusan.
  3. Pastor Pembantu bertugas membantu Pastor Paroki dalam seluruh pelayanan paroki, dan hal-hal lain yang ditentukan oleh Uskup KAS dan Pastor Paroki.
  4. Pastor Pembantu dapat mengambil alih tanggungjawab sementara seluruh reksa pastoral paroki bila paroki lowong dan juga bila Pastor Paroki terhalang dan belum diangkat seorang Administrator Paroki.
  5. Pastor Pembantu (ex officio) menjabat Wakil Ketua I Dewan Paroki.
Pasal 7
Administrator Paroki
  1. Seorang imam yang ditugaskan Uskup KAS untuk melaksanakan reksa pastoral di paroki pada saat Paroki lowong atau bila Pastor Paroki terhalang.
  2. Administrator Paroki diangkat secara resmi oleh Uskup KAS dengan Surat Keputusan
  3. Administrator Paroki terikat kewajiban-kewajiban dan hak-hak yang sama seperti Pastor Paroki kecuali ditentukan lain oleh Uskup KAS.

BAB III
DEWAN PAROKI
Pasal 8
  1. Dewan Paroki merupakan persekutuan para pelayan umat yang terdiri dari umat beriman kristiani yang diketuai oleh Pastor Paroki, secara bersama-sama mengambil bagian dalam reksa pastoral di paroki dan memberikan bantuannya untuk mengembangkan kegiatan pastoral.
  2. Struktur kepengurusan Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang terdiri dari :
a. Dewan Harian
b. Dewan Inti
c. Dewan Pleno
Pasal 9
Struktur kepengurusan Dewan Harian Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang terdiri dari :
  1. Ketua Dewan Paroki (ex officio Pastor Paroki)
  2. Wakil Ketua I (ex officio Pastor Pembantu)
  3. Wakil Ketua II
  4. Sekretaris I
  5. Sekretaris II
  6. Bendahara I
  7. Bendahara II
  8. Bendahara III
  9. Ketua Bidang Liturgi dan Peribadatan
  10. Ketua Bidang Pewartaan dan Evangelisasi
  11. Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan
  12. Ketua Bidang Paguyuban dan Persaudaraan
  13. Ketua Bidang Rumah Tangga
  14. Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan
  15. Koordinator Ketua-Ketua Wilayah
Pasal 10

  1. Struktur kepengurusan Dewan Inti Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang terdiri dari :
a. Dewan Harian
b. Ketua-ketua Wilayah
c. Ketua-ketua Tim Kerja
2. Tim Kerja merupakan sekelompok orang yang bekerja bersama sebagai suatu tim yang menjalankan tugas dalam lingkup unit pelayanan terbatas dalam salah satu bidang pelayanan Dewan Paroki.
Pasal 11
  1. Struktur kepengurusan Dewan Pleno Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang terdiri dari :
a. Dewan Inti
b. Ketua-ketua Lingkungan
c. Pengurus Tim Kerja
d. Ketua Kelompok Kategorial
e. Perwakilan Komunitas Wisma Sang Penebus
f. Perwakilan Komunitas Bruder Karitas
g. Tokoh-tokoh Umat
2. Tokoh Umat adalah pribadi-pribadi perwakilan tiap wilayah yang kompeten, wakil lembaga gerejawi, wakil biara dan atau umat yang menjadi pejabat pemerintahan yang ditunjuk oleh Dewan Harian.
3. Ketua Kelompok kategorial adalah pribadi atau orang yang dipilih oleh para anggotanya.
Pasal 12
  1. Skema Pelayanan Pastoral Dewan Paroki


  1. Skema pelayanan Dewan Paroki adalah menyamping dalam arti agar pelayanan dihayati dalam semangat kemitra-sejajaran (partnership). Garis tegas menunjukkan koordinasi langsung, sedangkan garis putus-putus menunjukkan hubungan tidak langsung.
  2. Skema tersebut ingin menghidupi jiwa persekutuan dalam Roh (communio), melalui kerjasama, koordinasi dan sinergi pelayanan dalam Dewan Paroki.
BAB IV
KEANGGOTAAN DEWAN PAROKI
Pasal 13
Persyaratan
Pribadi-pribadi yang dapat dan layak menjadi anggota Dewan Paroki adalah orang Katolik yang memenuhi kriteria sebagai berikut :
  1. Sudah menerima sakramen inisiasi, yaitu Sakramen Baptis, Ekaristi dan Penguatan.
  2. Rajin berdoa dan mengikuti Perayaan Ekaristi atau ibadat-ibadat ilahi
  3. Aktif terlibat dalam kegiatan Lingkungan,
  4. Bersemangat dalam hidup menggereja dan memiliki loyalitas pada Gereja Katolik Roma.
  5. Bersedia untuk melayani dan memiliki komitmen terhadap tugas pelayanannya.
  6. Diterima oleh umat.
  7. Mempunyai nama baik ditengah umat dan masyarakat.
  8. Mempunyai kemampuan bekerjasama dan bermusyawarah.
  9. Berdomisili di Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang.
  10. Tidak terhalang oleh hukum Gereja
  11. Berusia maksimal 65 tahun ketika dilantik, kecuali masih dikehendaki oleh umat dan kondisi kesehatan masih memungkinkan
Pasal 14
Ketentuan Umum Pemilihan Pengurus Dewan Paroki
  1. Ketua Lingkungan dan Wakil Ketua II Dewan paroki dipilih langsung oleh umat
  2. Tatacara pemilihan Ketua Lingkungan dan Wakil Ketua II Dewan Paroki disusun oleh Panitia Khusus ( ad hoc ) yang dibentuk oleh Dewan Paroki
  3. Pemilihan pengurus Dewan Harian Paroki dilakukan oleh Panitia Khusus bersama Pastor paroki.
  4. Tatacara pemilihan Pengurus Lingkungan diserahkan kepada Ketua Lingkungan terpilih.
  5. Ketua Wilayah dipilih dari antara Ketua-ketua Lingkungan kecuali keadaan menuntut lain.
  6. Koordinator Ketua-ketua Wilayah dipilih oleh para Ketua Wilayah
  7. Ketua Tim Kerja dipilih oleh Ketua Bidangnya
  8. Tokoh umat ditentukan oleh Dewan Harian
  9. Pengurus Dewan Paroki sedapat mungkin tidak memiliki fungsi rangkap.
Pasal 15
Pelantikan
  1. Pelantikan Dewan Paroki dilakukan oleh Uskup atau yang mendapat delegasi dari Uskup dan dilaksanakan dalam perayaan Ekaristi.
  1. Pengurus Lingkungan dilantik oleh Pastor Paroki atau yang mendapatkan delegasi dari Pastor Paroki dan dilaksanakan dalam perayaan Ekaristi.
  1. Pelantikan Dewan Paroki dituangkan dalam Berita Acara Pelantikan Dewan Paroki.
Pasal 16
Masa Bakti
  1. Masa bakti keanggotaan Dewan Paroki berlangsung selama 3 tahun
  2. Kecuali Pastor, fungsionaris Dewan Paroki dapat dipilih lagi untuk masa bakti berikutnya paling banyak satu kali pada fungsi yang sama.
  3. Masa bakti Pastor mengikuti Surat Keputusan Uskup
  4. Masa bakti dihitung mulai dari hari dan tanggal pelantikan.
  5. Bila terjadi penggantian ditengah masa bakti, baik pastor maupun fungsionaris Dewan Paroki, tidak ada pelantikan secara khusus.
  6. Bila berhalangan tetap atau meninggal dunia maka jabatan yang bersangkutan digantikan oleh salah satu pengurus yang ditunjuk Pastor Paroki
BAB V
TUJUAN, FUNGSI , TANGGUNG JAWAB DAN WEWENANG DEWAN PAROKI
Pasal 17
Tujuan Dewan Paroki
  1. Dewan Paroki bertujuan menyelenggarakan Tata Pelayanan Pastoral sesuai ARDAS KAS yang berlaku dan mengembangkan kegiatan pastoral paroki demi terpenuhinya pelayanan kepada umat beriman dan terwujudnya kesejahteraan masyarakat, melalui bidang liturgi dan peribadatan, pewartaan dan evangelisasi, pelayanan kemasyarakatan, paguyuban dan persaudaraan, rumah tangga, penelitian dan pengembangan.
  2. Dalam Tata Pelayanan Pastoral tersebut dengan memberdayakan umat lingkungan dan komunitas kategorial agar menjadi umat basis yang semakin berkualitas dan misioner dalam :
a. Pengembangan iman, umat semakin mempunyai iman yang mendalam dan tangguh yang dibangun melalui doa, devosi, pendalaman Sabda Allah dan ajaran Gereja, dihayati dalam penerimaan sakramen-sakramen serta perwujudan hidup sehari-hari.
b. Peningkatan peran awam, umat semakin menghayati persaudaraan sebagai sesama umat Katolik dan semakin inklusif membangun hubungan dan kerjasama dengan masyarakat khususnya RT/RW, umat beragama dan kepercayaan lain dengan kesadaran mendalam bahwa semua adalah saudara sesama ciptaan Allah dan sesama sebangsa setanah air.
c. Pelayanan kasih, umat semakin peduli dan bersedia berbagi dengan mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel khususnya umat di Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang dan masyarakat pada umumnya, sehingga dengan demikian mencerminkan kehadiran/wajah Gereja Katolik sebagai sakramen keselamatan sungguh sungguh memberi makna yang nyata bagi sesama terutama yang menderita.
Pasal 18
Fungsi
Dewan Paroki mengemban panggilan dan tugas perutusan Gereja untuk mewartakan dan menghadirkan persekutuan ilahi secara konkret, sehingga mempunyai fungsi sebagai berikut :
a. Dewan Paroki berfungsi konsultatif terhadap kepemimpinan hierarki, yakni berperan sebagai lembaga musyawarah untuk memberi pertimbangan pertimbangan pastoral terhadap hierarki.
b. Dewan Paroki berfungsi eksekutif dalam menyelenggarakan pelayanan pastoral, yakni melayani seluruh umat dalam bentuk Tata Penggembalaan, Tata Kelola Administrasi dan Tata Kelola Harta Benda.
c. Dewan Paroki berfungsi representatif dalam menghadirkan Gereja di tengah umat dan masyarakat, yakni Dewan Paroki mewakili dan bertindak atas nama umat paroki di tengah umat dan masyarakat.
Pasal 19
Tanggung Jawab dan Wewenang
  1. Dewan Paroki bertanggung jawab atas keputusan-keputusan dan pelaksanaan pastoral kepada umat paroki dan Uskup.
  1. Dewan Paroki berwenang :
a. Memberikan pertimbangan-pertimbangan sejauh diminta oleh hierarki.
b. Mengambil keputusan tentang pelaksanaan reksa pastoral paroki dalam kesatuan dengan arah pastoral Keuskupan.
c. Mewakili kehadiran Gereja Paroki sebagai lembaga di tengah umat dan masyarakat.

BAB VI
TUGAS DEWAN PAROKI
Pasal 20
Tugas Dewan Paroki
Dewan Paroki bertugas menyelenggarakan pelayanan pastoral sesuai dengan kebutuhan umat dengan mengacu pada Arah Dasar KAS, Pedoman-pedoman Pastoral KAS, dan pengarahan-pengarahan Keuskupan.
Pasal 21
Tugas Dewan Harian
  1. Merumuskan kebijakan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang tentang pelayanan pastoral paroki berdasarkan kebijakan umum Keuskupan Agung Semarang dan Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang.
  1. Menentukan misi paroki, fokus pastoral serta sasaran strategis baik jangka panjang, menengah maupun pendek.
  1. Mengawal, memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan program kerja di semua bidang Dewan Paroki.
  1. Menangani masalah-masalah paroki yang timbul dalam kehidupan umat beriman.
  1. Mempersiapkan rapat dan membentuk kepanitiaan ad hoc.
  1. Mengundang rapat Dewan Inti, Dewan Pleno atau Bidang-bidang/Tim Kerja tertentu secara berkala.
  1. Menyampaikan laporan tentang dinamika pastoral paroki kepada Uskup antara lain :
a. Laporan Keuangan bulanan dan tahunan
b. Rencana Program Kerja dan Anggaran Biaya (RPKAB)
c. Data Statistik
d. Narasi dinamika Paroki
Pasal 22
Tugas Ketua Dewan Paroki
  1. Memastikan terlaksananya reksa pastoral secara keseluruhan dan memastikan terselenggaranya atas tata penggembalaan Dewan Paroki
  1. Memimpin dan atau menunjuk pimpinan rapat Dewan Harian , Dewan Inti dan Dewan Pleno
  1. Menyetujui permohonan pencairan dana pembiayaan kegiatan bidang atau tim kerja atau kepanitiaan yang sesuai dengan Program Kerja dan Anggaran Biaya yang telah disahkan bersama bendahara I
  1. Menanggapi dan memutuskan permohonan proposal kegiatan dan bantuan di luar Rencana Program Kerja dan Anggaran Biaya yg telah diputuskan bersama Dewan Harian
  1. Memastikan tugas-tugas ketua bidang terlaksana sesuai dengan rencana
  1. Membuat kesepakatan tugas pendampingan bidang-bidang Dewan Paroki bersama Wakil Ketua I dan II Dewan Paroki
  1. Memberikan otorisasi atas semua aktivitas keuangan dan non keuangan beserta laporan-laporannya
Pasal 23
Tugas Wakil Ketua I
  1. Mewakili Ketua bila berhalangan.
  1. Melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh Ketua.
  1. Memberikan usul dan saran kepada Ketua untuk merealisasi kegiatan bidang atau Tim Kerja yang didampinginya sesuai program kerja jika terjadi kemandegan
  1. Memastikan terselenggaranya pengelolaan kantor sekretariat paroki dan kesekretariatan Dewan paroki
Pasal 24
Tugas Wakil Ketua II
  1. Mewakili Ketua bila Ketua atau Wakil Ketua I berhalangan.
  1. Memimpin rapat-rapat Dewan Harian, Dewan Inti, dan Dewan Pleno sesuai dengan penugasan yang diberikan Ketua.
  1. Mewakili Dewan Paroki dalam hubungan dengan pemerintah dan masyarakat.
Pasal 25
Tugas Sekretaris I
  1. Menyiapkan materi rapat/pertemuan bersama ketua dan wakil ketua
  2. Membuat undangan rapat Dewan Harian
  3. Membuat notulensi dan pengarsipannya
  4. Menyusun laporan tahunan bersama Dewan Harian
  5. Mengelola surat menyurat yang berkaitan dengan Dewan Paroki
  6. Memastikan terlaksananya tata kelola administrasi Dewan Paroki
  7. Membuat agenda Dewan Harian tengah tahunan dan tahunan
  8. Menyusun Rencana Program Kerja dan Anggaran Biaya tahunan Dewan Paroki yang telah disahkan oleh Dewan Pleno dan mengirimkan ke KAS
  9. Bertanggungjawab mengirimkan proposal-proposal kegiatan bidang yang membutuhkan subsidi dana ke KAS

Pasal 26
Tugas Sekretaris II
  1. Membantu sekretaris I dalam mengelola surat menyurat
  2. Mengundang dan membuat notulensi rapat Dewan Inti, Dewan Pleno
  3. Membuat notulensi dan pengarsipannya
  4. Mencatat semua peristiwa penting di Paroki untuk selanjutnya atas persetujuan Dewan Harian dicatat dalam buku sejarah Paroki (Historia Parociae)
  5. Memastikan ketersediaan data umat bekerjasama dengan Bidang Penelitian dan Pengembangan
  6. Menyediakan format isian/blanko-blanko menurut kebutuhan
  7. Melaksanakan tugas kesekretariatan bekerjasama dengan sekretaris I dan sekretaris kantor paroki
  8. Mendampingi paguyuban sekretaris lingkungan
Pasal 27
Tugas Bendahara I
    1. Mengelola, mengadminstrasikan, dan memastikan terselenggaranya keamanan keuangan paroki, serta mengadminstrasikan harta benda Paroki bersama Ketua Dewan Paroki
    2. Melakukan koordinasi pekerjaan keuangan dengan Bendahara II dan III.
    3. Mengelola pemasukan dan pengeluaran uang, memikirkan cara-cara utk meningkatkan pendapatan paroki
    4. Menyusun RPKAB paroki bersama Dewan Harian dan menyerahkan kepada Keuskupan Agung Semarang pada setiap awal tahun
    5. Membuat evaluasi realisasi RPKAB bersama Dewan Harian
    6. Membuat laporan keuangan bulanan kepada Ekonomat KAS bersama Bendahara II dan III paling lambat tanggal 10 pd bulan berikutnya.
    7. Membuat laporan keuangan tahunan yang berisi neraca, laporan aktivitas dan catatan yang memuat informasi penting yang berkaitan dengan keuangan kepada Ekonomat KAS bersama Bendahara II dan III pada setiap awal tahun
    8. Melakukan verifikasi atas laporan pemasukan dan pengeluaran dana dari bendahara II dan III bersama Ketua Dewan.
    9. Mengurus penyimpanan uang dan surat surat berharga di Paroki / di Bank yang telah ditunjuk oleh KAS bersama Ketua Dewan, Bendahara II dan III
    10. Melaporkan situasi keuangan Paroki kepada Dewan Harian setiap bulan
    11. Memberikan laporan keuangan kepada umat melalui Ketua Lingkungan setiap bulan
    12. Membuat rekapitulasi laporan keuangan Lingkungan setiap bulan
Pasal 28
Tugas Bendahara II
  1. Mengkoordinir penghitungan uang kolekte, amplop persembahan dan sumbangan lainnya bersama Tim Penghitung Kolekte dengan Bendahara I dan Bendahara III serta mencatat hasilnya dalam format yang sudah tersedia dan membuat Berita Acara penyerahan uang kepada Bendahara I
  2. Mengembalikan amplop persembahan kepada umat beserta dengan uang yang menjadi bagian untuk lingkungan sesuai dengan prosentase yang telah ditentukan oleh Dewan Paroki
  3. Mencatat pemasukan dan pengeluaran uang
  4. Menyusun laporan tahunan yang berisi neraca, laporan aktivitas dan catatan yang memuat informasi penting yg berkaitan dengan laporan keuangan bersama Bendahara I dan III
  5. Mengurus penyimpanan uang di Bank dan surat-surat berharga di Paroki yang telah ditunjuk oleh KAS bersama Ketua Dewan, Bendahara I dan III
Pasal 29
Tugas Bendahara III
  1. Memeriksa catatan aktivitas keuangan dan menghitung secara fisik uang kolekte tiap minggu dan melaporkan ke Bendahara I
  2. Melakukan pembayaran rutin bulanan di paroki seperti pembayaran gaji karyawan, telpon, listrik, air, dan pengeluaran lainnya
  3. Mengirimkan dana solidaritas paroki dan kolekte khusus ke KAS
  4. Mengelola Kas Kecil Paroki.
  5. Menyusun laporan tahunan (neraca, laporan aktivitas dan catatan atas laporan keuangan) bersama dengan Bendahara I dan II.
Pasal 30
Tugas Ketua-Ketua Bidang
  1. Mengkomunikasikan hasil rapat dewan harian paroki kepada KTK
  2. Mengkoordinir Ketua-Ketua Tim Kerja sesuai dengan tugasnya
  3. Memastikan penyelenggaraan rapat rutin dengan tim kerja.
  4. Menyusun RPKAB beserta proposal yang membutuhkan subsidi dari KAS bersama seluruh Tim kerja yang berada dalam koordinasinya
  5. Memastikan dan mengawasi selesainya pembuatan proposal yang membutuhkan subsidi dari KAS di masing-masing KTK
  6. Menandatangani Proposal kegiatan sesuai RPKAB
  7. Memastikan LPJ ke KAS sesuai dengan subsidi yang disetujui
  8. Melaksanakan, monitoring dan evaluasi RPKAB
Pasal 31
Ketua Bidang Liturgi dan Peribadatan
  1. Ketua Bidang Liturgi dan Peribadatan Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengusahakan agar kegiatan liturgi berjalan sesuai dengan visi dan misi paroki serta visi KAS.
  2. Ketua Bidang Liturgi dan Peribadatan Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengembangkan pelayanan sakramen, sakramentali dan devosi yang hidup sejalan dengan ajaran dan tradisi Gereja.
  3. Ketua Bidang Liturgi dan Peribadatan Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengkoordinasikan Tim kerja-Tim kerja yang didampingi secara periodik, yakni:
a. TK Liturgi & Peribadatan
b. TK Prodiakon
c. TK Putra Putri Altar
d. TK Paduan Suara
e. TK Pemazmur
f. TK Dirigen
g. TK Lektor
h. TK Musik Liturgi
i. TK Paramenta
j. TK Tata Altar
Pasal 32
Ketua Bidang Pewartaan dan Evangelisasi
  1. Ketua Bidang Pewartaan dan Evangelisasi Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengusahakan agar kegiatan dalam bidang pewartaan dan evangelisasi sesuai dengan visi KAS dan misi paroki.
  2. Ketua Bidang Pewartaan dan Evangelisasi Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengembangkan pendidikan iman, katekese dan semangat misioner bagi seluruh umat.
  3. Ketua Bidang Pewartaan dan Evangelisasi Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengkoordinasikan Tim kerja-Tim kerja yang didampingi secara periodik, yakni:
a. TK Inisiasi
b. TK Katekis
c. TK Kerasulan Kitab Suci (KKS)
d. TK Pendampingan Iman Usia Dini (PIUD)
e. TK Pendampingan Iman Anak (PIA)
f. TK Pendampingan Iman Remaja (PIR)
g. TK Pendampingan Iman Orang Muda (PIOM)
h. TK Pendampingan Iman Orang Dewasa (PIOD)
i. TK Pendampingan Iman Usia Lanjut (PIUL)
j. TK Promosi Panggilan (PromPang)
k. TK Komunikasi Sosial (KOMSOS)
l. TK Pemandu
m. TK Katekese Persiapan Perkawinan (KPP)
n. TK Evangelisasi
Pasal 33
Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan (Diakonia)
  1. Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas bertugas mengusahakan agar kegiatan pelayanan sesuai dengan visi KAS dan misi paroki.
  2. Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengembangkan pelayanan sosial baik ke dalam maupun keluar bersama masyarakat umum dengan perhatian pokok pada kesejahteraan terutama kaum KLMTD, keadilan dan keutuhan ciptaan.
  3. Ketua Bidang Pelayanan Kemasyarakatan Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengkoordinasikan Tim kerja-Tim kerja yang didampingi secara periodik, yakni:
a. TK Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE)
b. TK Kesehatan
c. TK Pendidikan
d. TK Pangruktilaya
e. TK Hubungan Antar Keagamaan (HAK)
f. TK Karya Kerasulan Kemasyarakatan
g. TK Keutuhan Ciptaan
Pasal 34
Ketua Bidang Paguyuban dan Tata Organisasi
  1. Ketua Bidang Paguyuban dan Tata Organisasi Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengusahakan agar kegiatan dalam bidang paguyuban sesuai dengan visi KAS dan misi paroki.
  2. Ketua Bidang Paguyuban dan Tata Organisasi Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengembangkan dan memberdayakan paguyuban-paguyuban sehingga tercipta persekutuan paguyuban-paguyuban umat beriman.
  3. Ketua Bidang Paguyuban dan Tata Organisasi Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengkoordinasikan Tim kerja-Tim kerja yang didampingi secara periodik, yakni:
a. TK Pendamping Keluarga
b. TK Ibu-Ibu Paroki
c. TK Kesenian
d. TK Kerasulan Doa
e. TK Orang Muda Katolik (OMK)
Pasal 35
Ketua Bidang Rumah Tangga
  1. Ketua Bidang Rumah Tangga Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawangbertugas mengusahakan agar kegiatan dalam bidang rumah tangga sesuai dengan visi dan misi paroki.
  2. Ketua Bidang Rumah Tangga Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengadakan, memelihara, menginventaris dan mengembangkan sarana prasarana pelayanan pastoral paroki dan pastoran.
  3. Ketua Bidang Rumah Tangga Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengkoordinasikan Tim kerja-Tim kerja yang didampingi secara periodik, yakni:
a. TK Pemeliharaan Gedung
b. TK Keamanan dan Ketertiban
c. TK Rumah Tangga Paroki
d. TK Rumah Tangga Pastoran
e. TK Pengelola Parkir
f. TK Instalasi Listrik, Telepon dan Air
g. TK Sound System
h. TK Sarana dan Prasarana
i. TK Inventarisasi
j. TK Publikasi, Dokumentasi dan Audio Visual
k. TK Pemeliharaan Kebun dan Taman
Pasal 36
Tugas Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan
  1. Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Dewan Paroki Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengusahakan agar kegiatan dalam bidang penelitian dan pengembangan mendukung terlaksananya visi KAS dan misi paroki.
  2. Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Dewan Paroki Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas menyediakan berbagai informasi atau data yang mendukung pengembangan karya pelayanan paroki, melakukan penelitian dan rencana pengembangan pelayanan paroki.
  3. Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Dewan Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang bertugas mengkoordinasikan Tim kerja-Tim kerja yang didampingi secara periodik, yakni:
a. TK Pengembangan Teknologi Informasi
b. TK Pengembangan Pastoral Teritorial
Pasal 37
Tugas Umum Koordinator Tim Kerja
  1. Mengkoordinasi pembuatan program kerja, RAPB dan pelaksanaannya sesuai dengan Tim Kerja atau tugasnya yang disetujui oleh Ketua Bidang.
  2. Menindaklanjuti hasil rapat Dewan Paroki kepada anggota tim kerjanya di bawah koordinasi Ketua Bidang.
  3. Menyelenggarakan pertemuan rutin internal Tim Kerja sekurang-kurangnya sebulan sekali
  4. Melakukan koordinasi dengan tim kerja lain yang berhubungan dengan rencana program kerjanya.
  5. Membuat proposal pengajuan permohonan dana kegiatan sesuai dengan Rencana Program Kerja dan Anggaran Bidang yang disetujui oleh Ketua Bidang.
  6. Melaksanakan, mengevaluasi, melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksananaan program kerja tersebut.
  7. Membuat laporan pertanggungjawaban kegiatan dan keuangan sesuai dengan pelaksanaan kegiatan yang disetujui oleh Ketua Bidang.
  8. Membuat laporan monitoring dan evaluasi (monev) program kerja secara berkala yang disetujui oleh Ketua Bidang.
  9. Melakukan kaderisasi.
  10. Membuat laporan pertanggungjawaban program kerja tahunan dan akhir periode Dewan Paroki yang disetujui oleh Ketua Bidang
Pasal 38
Tugas Khusus Koordinator Tim Kerja
  1. Tim-Tim Kerja Bidang Liturgi dan Peribadatan
a. Koordinator Tim Kerja Liturgi dan Peribadatan
1)Memastikan terselenggaranya perayaan-perayaan liturgi dan peribadatan di tingkat paroki
2)Menyusun dan menyediakan teks panduan ekaristi mingguan dan khusus
3)Menyusun jadwal petugas liturgi dan peribadatan harian dan mingguan tingkat paroki bekerjasama dengan Tim Kerja terkait
4)Memastikan terlaksananya kegiatan liturgi secara baik dan benar berdasarkan PUMR (Pedoman Umum Missale Romawi) di paroki, wilayah, lingkungan, dan kelompok-kelompok kategorial.
5)Memastikan terselenggaranya pendampingan dan pembekalan liturgi di tingkat paroki, wilayah dan lingkungan
6)Menyelenggarakan perayaan sakramen-sakramen inisiasi bekerjasama dengan Tim Kerja Inisiasi
7)Membuat tema-tema perayaan Ekaristi mingguan maupun perayaan ekaristi khusus.
b. Koordinator Tim Kerja Prodiakon
1)Menyusun jadwal tugas prodiakon untuk perayaan-perayaan liturgi dan peribadatan tingkat paroki
2)Memastikan terlaksananya tugas prodiakon sesuai dengan Surat Keputusan Uskup
3)Mengadakan pembekalan dan pelatihan prodiakon baru
4)Menyelenggarakan penyegaran dan pembelajaran bagi para prodiakon
c. Koordinator Tim Kerja Putra Putri Altar
1)Menyusun jadwal petugas putra-putri altar untuk perayaan-perayaan liturgi dan peribadatan tingkat paroki.
2)Memastikan terlaksananya jadwal pelayanan putra-putri altar.
3)Memastikan terselenggaranya pembekalan putra-putri altar baru.
4)Memastikan terselenggaranya pendampingan putra-putri altar untuk mendukung pelayanan dan pertumbuhan iman mereka.
5)Memastikan keikutsertaan dalam kegiatan putra-putri altar tingkat rayon, kevikepan, dan keuskupan
d.Koordinator Tim Kerja Paduan Suara
1)Menyusun jadwal tugas paduan suara untuk perayaan-perayaan liturgi dan peribadatan tingkat paroki
2)Memastikan tersedianya paduan suara untuk kepentingan koor di gereja paroki
3)Mengadakan pelatihan dan pembekalan kelompok-kelompok paduan suara
4)Bekerjasama dengan kelompok-kelompok paduan suara di luar paroki untuk melayani koor dalam perayaan liturgi dan peribadatan tingkat paroki
5)Mengikutsertakan kelompok paduan suara dalam kegiatan lomba atau festival di luar paroki
e. Koordinator Tim Kerja Pemazmur
1)Menyusun jadwal tugas pemazmur untuk perayaan-perayaan liturgi dan peribadatan tingkat paroki
2)Memastikan tersedianya pemazmur untuk menyanyikan mazmur tanggapan dalam perayaan ekaristi mingguan, hari raya, dan misa khusus
3)Mengadakan pelatihan dan pembekalan pemazmur
f. Koordinator Tim Kerja Dirigen
1)Memastikan adanya pelatihan dan pembekalan dirigen di tingkat paroki
2)Mengadakan kursus dasar untuk memunculkan dirigen-dirigen baru di tingkat lingkungan
g. Koordinator Tim Kerja Lektor
1)Menyusun jadwal tugas lektor untuk perayaan-perayaan liturgi harian, mingguan, hari raya, dan misa khusus di tingkat paroki
2)Memastikan terlaksananya tugas lektor dilaksanakan secara baik dan benar
3)Menyelenggarakan latihan rutin untuk tugas mingguan, hari raya dan perayaan ekaristi khusus.
4)Memastikan terselenggaranya pelatihan dan pembekalan bagi para lektor
h. Koordinator Tim Kerja Musik Liturgi
1)Menyusun jadwal tugas pengiring musik liturgi untuk perayaan ekaristi harian, mingguan, hari raya, dan misa khusus
2)Memastikan tersedianya pengiring musik liturgi pada setiap perayaan ekaristi harian, mingguan, hari raya, misa khusus
3)Memberikan pelatihan atau pembekalan kepada para pemusik mengenai musik liturgi
i. Koordinator Tim Kerja Paramenta
1)Memastikan terlaksananya inventarisasi seluruh peralatan liturgi.
2)Memastikan pengadaan dan perbaikan alat serta pakaian liturgi.
3)Memastikan tersedianya sarana yang diperlukan untuk kepentingan perayaan-perayaan liturgi baik perayaan rutin maupun khusus.
4)Memastikan perawatan dan kebersihan alat-alat serta pakaian peribadatan.
j. Koordinator Tim Kerja Tata Altar
1)Memastikan tata altar di setiap kegiatan misa rutin, misa khusus sesuai aturan liturgy
2)Membuat inventarisasi perlengkapan tata altar
3)Menyelenggarakan pelatihan tata altar untuk lingkungan-lingkungan
4)Mengikutsertakan kelompok tata altar dalam kegiatan-kegiatan yang relevan di luar paroki
2. Tim-Tim Kerja Bidang Pewartaan Dan Evangelisasi
a. Koordinator Tim Kerja Inisiasi
1)Memastikan terselenggaranya bina iman yaitu persiapan baptisan anak dan dewasa, komuni pertama, penguatan di lingkungan dan paroki
2)Mengkoordinasi penyelenggaraan Baptisan Anak, Baptisan Dewasa, Komuni Pertama, dan penguatan.
3)Memastikan terselenggaranya persiapan dan pelaksanaan baptisan anak
4)Memastikan terselenggaranya persiapan dan pelaksanaan baptisan dewasa
5)Memastikan terselenggaranya persiapan dan pelaksanaan komuni pertama
6)Memastikan terselenggaranya persiapan dan pelaksanaan penguatan
7)Memastikan terlaksananya mystagogi
8)Membuat uraian tugas untuk masing-masing penanggungjawab baptisan anak, baptisan dewasa, komuni pertama, dan penguatan
9)Membuat jadwal pengajaran dalam koordinasi dengan Koordinator Tim Kerja Katekis
10)Memastikan terselenggaranya perayaan penerimaan sakramen inisiasi dalam kerjasama dengan Koordinator Tim Kerja Liturgi dan Peribadatan
b. Koordinator Tim Kerja Katekis
1)Memastikan terselenggaranya kursus dan bina lanjut bagi para katekis dan guru agama
2)Memastikan terselengaranya pengajaran bagi para katekumen, calon penerima komuni pertama, calon penerima penguatan, para orangtua dan wali baptis anak
3)Memastikan terselenggaranya Mistagogi bagi baptisan baru, komuni pertama, dan penguatan
c. Koordinator Tim Kerja Kerasulan Kitab Suci
1)Memastikan terselenggaranya kegiatan-kegiatan pemahaman dan pendalaman Kitab Suci.
2)Menyelenggarakan kursus tematik Kitab Suci bagi umat dan penggerak lingkungan secara berkala
3)Memastikan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) terselenggara dengan efektif di tingkat lingkungan dan kelompok kategorial
d. Koordinator Tim Kerja PIUD
1)Memastikan adanya pendampingan iman anak usia dini di tingkat paroki
2)Memastikan terselenggaranya pengelolaan PIUD Paroki “ Teman Bermain Santo Alfonsus ”
3)Memastikan terselenggaranya pelatihan dan pendampingan bagi guru-guru pendamping.
e. Koordinator Tim Kerja PIA
1)Memastikan terselenggaranya pendampingan iman anak katolik bekerjasama dengan Tim Kerja Katekis.
2)Membuat jadwal pendampingan iman anak di tingkat paroki.
3)Memastikan adanya pembekalan bagi para pendamping iman anak.
4)Menyelenggarakan perayaan iman bagi anak-anak pada hari paroki atau hari besar lainnya, bekerjasama dengan TK lainnya atau Panitia Ad Hoc.
5)Memastikan keikutsertaan dalam kegiatan anak-anak di tingkat rayon, kevikepan, dan keuskupan
f. Koordinator Tim Kerja PIR
1)Memastikan terselenggaranya pendampingan iman remaja katolik bekerjasama dengan Tim Kerja Katekis
2)Membuat jadwal pendampingan iman remaja di tingkat paroki
3)Memastikan adanya pembekalan bagi para pendamping dan penggerak iman remaja
4)Menyelenggarakan perayaan iman bagi remaja pada hari paroki atau hari besar lainnya, bekerjasama dengan TK lainnya atau Panitia Ad Hoc.
5)Memastikan keikutsertaan dalam kegiatan remaja di tingkat rayon, kevikepan, dan keuskupan
g.Koordinator Tim Kerja PIOM
1)Memastikan adanya pendampingan dan pengembangan iman orang muda katolik.
2)Memastikan adanya koordinasi antar paguyuban orang muda katolik di tingkat paroki.
3)Memastikan keikutsertaan dalam kegiatan orang muda katolik di tingkat rayon, kevikepan, dan keuskupan.
4)Memastikan terselenggarannya EOMK ( ekaristi orang muda katolik )
5)Memastikan terselenggaranya pengajaran ajaran iman, misal dari YouCat (Youth Cathechisme)
6)Memastikan terselenggarnya kaderisasi katekis muda
7)Memastikan terlaksananya sarasehan di moment-moment Gerejawi bagi orang muda (BKL, Adven, ASG, BKS, APP).
h. Koordinator Tim Kerja PIOD
1)Memastikan adanya pendampingan dan pengembangan iman orang dewasa .
2)Memastikan terselenggaranya BISA ( bincang-bincang iman santo alfonsus ) di tingkat paroki.
3)Memastikan keikutsertaan dalam kegiatan orang dewasa di tingkat rayon, kevikepan, dan keuskupan.
4)Memastikan terselenggarannya pendalaman iman di tingkat lingkungan
i.Koordinator Tim Kerja Pendampingan Iman Usia Lanjut (PIUL)
1)Memastikan adanya pendampingan dan pengembangan iman usia lanjut.
2)Memastikan adanya data umat yang berusia lanjut yang membutuhkan layanan sakramen.
3)Memastikan terselenggarannya pendalaman iman usia lanjut di tingkat lingkungan
j. Koordinator Tim Kerja PromPang
1)Memastikan terselenggaranya pertemuan berkala bagi para orangtua bruder, suster, imam, frater, seminaris dan para pemerhati panggilan di tingkat paroki
2) Memastikan terselenggaranya doa dan aksi panggilan
k. Koordinator Tim Kerja KOMSOS
1)Memastikan berfungsinya media komunikasi sosial di tingkat paroki
2)Memastikan adanya pelatihan komsos di tingkat paroki.
3)Memastikan keikutsertaan dalam kegiatan komsos di tingkat rayon, kevikepan, dan keuskupan.
4)Memastikan terjadinya peliputan dan pemberitaan kegiatan-kegiatan paroki
l. Koordinator Tim Kerja Pemandu
1)Memastikan tersedianya buku-buku panduan untuk masa Adven, Prapaskah, Bulan Katekese Liturgi, Bulan Kitab Suci Nasional dan panduan khusus
2)Memastikan terselenggaranya sosialisasi buku-buku panduan
3)Melakukan koordinasi bagi para pemandu di tingkat paroki dalam kerjasama dengan tim-tim kerja terkait
m. Koordinator Tim Kerja KPP
1)Memastikan terselenggaranya katekese persiapan hidup berkeluarga
2)Memastikan tersedianya aneka Buku Panduan Katekese Persiapan Berkeluarga yang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.
3)Memastikan adanya pelatihan dan pengembangan bagi para pendamping.
4)Melakukan koordinasi para pengajar dalam persiapan katekese Persiapan Perkawinan
5)Membuat jadwal pengajaran Katekese Persiapan Perkawinan
6)Mengikutsertakan para pengajar KPP dalam kegiatan di tingkat kevikepan dan keuskupan
n. Koordinator Tim Kerja Evangelisasi
1)Menyelenggarakan pengajaran ajaran-ajaran iman Gereja di tengah umat. (misalnya pembelajaran dokumen-dokumen Ajaran Iman Gereja.)
2)Menyenggarakan kursus-kursus atau sekolah iman, (misalnya kursus evangelisasi pribadi atau sekolah evangelisasi pribadi)
3)Menyediakan bahan-bahan pengajaran iman
3. Tim-Tim Kerja Bidang Diakonia
a. Koordinator Tim Kerja PSE
1)Memastikan terselenggaranya aksi kepedulian sosial seluruh umat sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja.
2)Memikirkan, mengupayakan dan mendampingi peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi warga gereja bekerjasama dengan Tim Verifikasi (Tim yang dibentuk oleh Romo Paroki untuk menyalurkan danpamis agar tepat sasaran), dan Panitia APP Paroki.
3)Memanfaatkan dana papa miskin (danpamis), dana APP dan sumber dana lainnya, untuk membantu pengembangan sosial ekonomi dan membantu warga gereja yang termasuk dalam kriteria KLMTD (Kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel).
4)Memberikan rekomendasi untuk pengajuan bantuan dana APP ke Kevikepan dan atau Keuskupan
5)Menghadiri rapat atau pembinaan yang diselenggarakan oleh Rayon atau kevikepan dalam rangka kerjasama Tim Kerja PSE.
b. Koordinator Tim Kerja Kesehatan
1)Memastikan tersedianya Pos pelayanan kesehatan terutama pada ekaristi mingguan dan pada hari raya atau pesta gerejani lainnya.
2)Memberikan rekomendasi bersama tim Verifikasi dalam menyalurkan danpamis untuk kepentingan kesehatan.
3)Menyelenggarakan kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan.
4)Menyelenggarakan peringatan Hari Orang Sakit Sedunia (11 Februari).
5)Mengadakan pembinaan dan penyuluhan kesehatan bagi warga gereja bekerjasama dengan instansi yang terkait.
c. Koordinator Tim Kerja Pendidikan
1)Memastikan terselenggaranya pendidikan dasar sampai dengan menengah bagi umat
2)Memastikan terselenggaranya kegiatan yang bersifat mencerdaskan dan meningkatkan keahlian bagi umat
3)Memastikan tersedianya data umat yang terlayani kebutuhan biaya pendidikan
4)Menjadi anggota Tim Verifikasi Danpamis
5)Mengembangkan ide kreatif di bidang Pendidikan
6)Mengupayakan jaringan kerjasama dengan Instansi dan Institusi Pendidikan
d. Koordinator Tim Kerja Pangruktilaya
1)Mengembangkan semangat bela rasa kepada keluarga yang berduka karena kematian dengan menjadi anggota paguyuban pangruktilaya
2)Memastikan terselenggaranya pelayanan pangruktilaya bagi umat Paroki Nandan yang sedang berduka karena kematian berdasarkan SOP
3)Mengelola dana Paguyuban Pangruktilaya
4)Memastikan setiap keluarga anggota yang berduka karena kematian mendapatkan santunan
5)Menjadi anggota Tim Verifikasi Danpamis
6)Mengadakan pelatihan dan pembekalan merawat Jenazah bagi tim kerja pangruktiloyo di lingkungan untuk meningkatkan ketrampilan.
7)Merancang pengadaan makam katolik.
e. Koordinator Tim Kerja HAK
1)Memastikan adanya komunikasi dengan instansi terkait demi peningkatan kerukunan dan kerjasama dalam kehidupan sehari-hari.
2)Membangun jejaring antar umat beriman tanpa kehilangan identitas kekatolikan.
3)Menjalin keakraban dengan tokoh-tokoh agama/kepercayaan lain dengan kunjungan silaturahmi terutama pada hari besar keagamaan.
f. Koordinator Tim Kerja Karya Kerasulan Kemasyarakatan
1)Memastikan adanya data umat yang menjadi fungsionaris masyarakat (Pengurus RT, RW, Dukuh, Lurah, dll).
2)Memastikan terselenggaranya pembekalan dan pendampingan bagi para fungsionaris masyarakat
3)Membentuk paguyuban para fungsionaris masyarakat yang beragama Katolik
4)Mengadakan pendalaman bahan atau penyuluhan kepada umat sehingga sadar akan hak-hak warga (Civil Society) misalnya menghadapi Pilkada dan Pemilu.
g. Koordinator Tim Kerja Keutuhan Ciptaan
1)Memikirkan dan mengusahakan bentuk-bentuk kegiatan peduli lingkungan hidup agar menjadi gerakan peduli bersama baik dalam Gereja atau ditengah-tengah masyarakat.
2)Membuat rencana program kerja tahapan dan fokus sasaran yang jelas dan tepat dalam jangka pendek (tahunan) dan jangka panjang (3 tahunan).
3)Membuat gerakan/aksi massal di tingkat lingkungan, wilayah, paroki dan masyarakat menanggapi isu konkret tentang Keutuhan Ciptaan dan lingkungan Hidup, dengan berbagai inovasi dan variasi kegiatan
4)Menjadi penggerak bagi pengurus lingkungan, wilayah, paroki serta tim kerja lain untuk mewujudkan kepedulian pada keutuhan ciptaan serta lingkungan hidup dengan kegiatan-kegiatan yang nyata.
5)Melakukan kolaborasi dan kerjasama dengan berbagai stake holder atau kelompok lainnya.
6)Menyelenggarakan aksi kepedulian lingkungan hidup bekerjasama dengan lingkungan, paguyuban atau kelompok kategorial untuk menciptakan lingkungan Gereja yang sehat dan bersih melalui pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan di sekitar kompleks Gereja.
7)Menyelenggarakan pembinaan hingga menyentuh bidang kehidupan sehari-hari khususnya dalam mengelola dan menciptakan keutuhan ciptaan

4. Tim-Tim Kerja Bidang Paguyuban Dan Tata Organisasi
a. Koordinator Tim Kerja Pendampingan Keluarga
1)Memastikan terselenggarannya Penyegaran Janji Perkawinan dalam ekaristi pada setiap Minggu terakhir bagi Pasutri yang merayakan ulang tahun perkawinan pada bulan tersebut.
2)Memastikan terselenggarannya pertemuan Pasutri se-paroki dalam jenjang usia perkawinan tertentu untuk meningkatkan kesetiaan pasutri.
3)Memastikan terselenggarannya reksa pastoral dan pendampingan bagi keluarga-keluarga yang sedang bermasalah, bekerjasama dengan Pengurus Lingkungan dan Pastor Paroki.
4)Menyelenggarakan konsultasi keluarga yang didampingi oleh tim ahli dengan persetujuan Pastor Paroki
b. Koordinator Tim Kerja Ibu-Ibu Paroki
1)Memastikan terselenggarannya pembinaan rutin bagi ibu-ibu paroki untuk mengembangkan iman dan persaudaraan.
2)Mengadakan koordinasi antar ibu-ibu wilayah dan lingkungan untuk kepentingan caos dhahar bagi pastor Paroki.
3)Menyediakan konsumsi untuk acara-acara yang diselenggara-kan oleh Dewan Paroki ataupun Bidang, dalam koordinasi dengan Tim Kerja Rumah Tangga Pastoran.
4)Memastikan terselenggarannya kerjabakti di lingkup pastoran dan gereja paroki, dalam koordinasi dengan Tim Kerja Rumah Tangga Pastoran.
c. Koordinator Tim Kerja Kesenian
1)Memastikan tersedianya data kelompok-kelompok kesenian di paroki
2)Memastikan terselenggarannya kegiatan kesenian di paroki sebagai sarana pewartaan iman Katolik
d. Koordinator Tim Kerja Kerasulan Doa
1)Memastikan terselenggarannya kegiatan kelompok-kelompok Kerasulan doa yang ada di tingkat paroki.
2)Memastikan terselenggarannya koordinasi dengan ketua kelompok-kelompok Kerasulan doa di tingkat paroki.
e. Koordinator Tim Kerja OMK
1)Memastikan terselenggaranya reksa pastoral anggota OMK dalam kesatuan dan koordinasi dengan reksa pastoral paroki.
2)Memastikan terselenggaranya pendataan anggota OMK setahun sekali.
3)Memastikan terselenggaranya pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatan OMK.
4)Memastikan adanya jejaring kerjasama antar OMK lingkungan, paroki, dalam Kevikepan dan Keuskupan.
5)Memastikan terselenggaranya pembinaan mental dan spiritual OMK menurut pedoman pastoral OMK.
6)Memastikan terselenggaranya kegiatan-kegiatan meningkatkan kecintaan Gereja dan bangsa
7)Memastikan terselenggaranya kegiatan kaderisasi (character building)
8)Memastikan terselenggaranya kegiatan pengenalan profesi dan kewirausahaan
9)Memastikan Orang Muda menjadi pioner gerakan lintas agama dan persaudaraan antar umat beriman
5. Tim-Tim Kerja Bidang Rumah Tangga
a. Koordinator Tim Kerja Pemeliharaan Gedung
1)Memastikan kelayakan gedung-gedung di area gereja paroki.
2)Memastikan terselenggarannya perawatan dan perbaikan gedung-gedung di area Gereja Paroki secara berkala.
b. Koordinator Tim Kerja Keamaan dan Ketertiban
1)Memastikan adanya petugas keamanan di area gereja
2)Memastikan jadwal dan petugas piket jaga gereja dari lingkungan-lingkungan.
3)Memastikan keamanan area gereja pada hari-hari raya natal dan paskah bekerjasama dengan kepolisian
4)Memastikan tersedianya sarana prasarana keamanan berikut penyimpanan dan perawatannya, yaitu alat pemadam kebakaran, alat komunikasi, dan peralatan standar kemanan modern.
c. Koordinator Tim Kerja Rumah Tangga Paroki
1)Memastikan tersedianya kebutuhan konsumsi kegiatan Dewan Paroki
2)Memastikan tersedianya data inventaris perlengkapan rumah tangga paroki dan pengada-an sejauh diperlukan.
d. Koordinator Tim Kerja Rumah Tangga Pastoran
1)Memastikan tersedianya jadwal caos dhahar bagi pastor Paroki
2)Memastikan tersedianya konsumsi dan kebutuhan pastoran
3)Memastikan tersedianya data inventaris perlengkapan rumah tangga pastoran dan pengadaan sejauh diperlukan.
e. Koordinator Tim Kerja Pengelolaan Parkir
1)Memastikan adanya jadwal petugas parkir
2)Memastikan tersedianya sarana prasarana parkir
3)Memastikan adanya penataan lalu-lintas parkir
f. Koordinator Tim Kerja Instalasi Listrik, Telepon, dan Air
1)Memastikan adanya gambar jaringan instalasi listrik, telepon dan air di area gereja paroki
2)Memastikan pemeliharaan rutin instalasi listrik, telepon, dan air di area gereja paroki
g. Koordinator Tim Kerja Sound System
1)Memastikan sound system siap dipakai untuk keperluan ibadat dan acara-acara di area gereja paroki
2)Memastikan adanya gambar jaringan Sound System
3)Memastikan adanya pemeliharaan dan pengadaan perlengkapan sound system sejauh diperlukan
h. Koordinator Tim Kerja Sarana dan Prasarana
1)Memastikan adanya data inventaris sarana dan prasarana yang berupa barang bergerak / dapat dipindahkan
2)Memastikan perawatan rutin sarana dan prasarana
i. Koordinator Tim Kerja Inventarisasi
1)Memastikan adanya data inventaris aset gereja baik benda bergerak maupun tidak bergerak
2)Memastikan aset gereja diberi label
j. Koordinator Tim Kerja Publikasi, Dokumentasi, dan Audio Visual
1)Memastikan tersedianya peralatan Publikasi, Dokumentasi, dan Audio Visual yang siap digunakan
2)Memastikan perawatan peralatan publikasi, dokumentasi dan audio visual
3)Memastikan adanya dokumentasi kegiatan liturgi dan non liturgy
4)Memastikan penyimpanan dokumentasi audio visual di gereja paroki
k. Koordinator Tim Kerja Pemeliharaan Kebun dan Taman
1)Memastikan perawatan rutin kebun, taman dan jalan di area gereja paroki
2)Memastikan adanya peremajaan tanaman di area gereja paroki
6. Tim-Tim Kerja Bidang Penelitian Dan Pengembangan
a. Koordinator Tim Kerja Pengembangan Teknologi Informasi
1)Memastikan terselenggarannya sensus dan pengisian data statistik paroki melalui pendataan lingkungan secara berkala, kemudian bersama sekretaris Dewan Paroki/ kantor mengolah laporan untuk dilaporkan ke Sekretariat Keuskupan.
2)Membantu Dewan Paroki Santo Alfonsus Nandan mengolah data, sehingga berguna untuk menentukan fokus pastoral paroki.
3)Mengumpulkan, memetakan dan mengolah data umat yang berguna untuk mendukung reksa pastoral paroki.
4)Menganalisis hasil data umat dan penelitian lapangan untuk menjadi bahan pemikiran bagi kemajuan pelayanan bidang kegiatan pastoral dan pelayanan paroki.
5)Bertanggun memastikan adanya pengelolaan, pemeliharaan serta perangkat keras dan lunak teknologi informasi tingkat paroki
b. Koordinator Tim Kerja Pengembangan Pastoral Teritorial
1)Bertugas mempelajari situasi dan perubahan sosial, politik, ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan dalam rangka pengembangan bidang pastoral paroki melalui studi pustaka, polling, angket umat, maupun penelitian lapangan, baik melalui program jangka pendek (tahunan) maupun jangka panjang (tiga tahunan).
2)Menganalisis hasil data umat dan penelitian lapangan untuk menjadi bahan refleksi dan sumbangan pemikiran bagi kemajuan pelayanan bidang kegiatan pastoral dan pelayanan paroki
3)Memikirkan kegiatan-kegiatan pengembangan sumber daya Dewan Paroki dan umat.
4)Membentuk tim penelitian dan pengembangan bidang-bidang pastoral dan pelayanan paroki.
5)Memikirkan dan membuat perencanaan pemekaran lingkungan dan wilayah.

Pasal 39
Tugas Koordinator Ketua-Ketua Wilayah
1.Memastikan terselenggaranya koordinasi antar Ketua Wilayah.
2.Memastikan kehadiran dalam pertemuan Dewan Harian.
3.Memastikan terbentuknya dan terselenggaranya pertemuan Forum Ketua Lingkungan dan Wilayah tingkat Paroki.
4.Memastikan tersampaikannya hasil rapat Dewan Harian kepada para ketua lingkungan melalui Forum Ketua Lingkungan dan Wilayah tingkat Paroki.
5.Memastikan tersedianya program kerja dan RAPB tahunan bagi para ketua lingkungan

Pasal 40
Tugas Ketua Wilayah
1.Memastikan terselenggaranya koordinasi antar Ketua lingkungan dalam lingkup wilayahnya.
2.Memastikan kehadiran dalam pertemuan Dewan Inti.
3.Memastikan tersampaikannya hasil rapat Dewan Inti kepada para ketua lingkungan dalam lingkup wilayahnya
4.Membentuk panitia ad hoc untuk kegiatan di tingkat wilayah atau paroki sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan oleh Dewan paroki.

Pasal 41
Tugas Ketua Lingkungan
1.Memastikan terselenggaranya reksa pastoral warga Lingkungan dalam kesatuan dan koordinasi dengan reksa pastoral paroki.
2.Memastikan terselenggaranya pendataan Lingkungan setahun sekali dengan menggunakan pedoman statistik keuskupan.
3.Memastikan terselenggaranya pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatan Lingkungan.
4.Memastikan adanya kerjasama antar lingkungan, antara lingkungan dengan masyarakat untuk perkembangan umat dan masyarakat.
5.Memastikan terjalinnya kemitraan dengan tokoh masyarakat di lingkungannya dalam mewujudkan wajah sosial Gereja.
6.Memastikan kehadiran dalam pertemuan Forum Ketua Lingkungan dan Wilayah tingkat Paroki serta meneruskan informasi kepada umat.
7.Memastikan tertib Laporan Keuangan Lingkungan ke Paroki.

Pasal 42
Tugas Ketua Kelompok Kategorial

1.Memastikan terselenggaranya reksa pastoral anggota kelompok dalam kesatuan dan koordinasi dengan reksa pastoral paroki.
2.Memastikan terselenggaranya pertemuan-pertemuan dan kegiatan-kegiatan kelompok.
3.Memastikan keterlibatan anggota kelompok di lingkungan dan masyarakat.
4.Memastikan terjalinnya kerjasama antar kelompok kategorial dengan lingkungan dan masyarakat.
5.Memastikan terselenggaranya pendataan anggota setahun sekali dengan menggunakan pedoman statistik Keuskupan dalam koordinasi dengan Bidang Penelitian dan Pengembangan.

Pasal 43
Tugas Tokoh Umat
1.Memberikan kritik dan saran yang positip kepada Dewan Paroki demi tercapainya pelayanan pastoral yang lebih baik.
2.Menjadi mediator antara Dewan Paroki dengan bidang ketokohan yang dimiliki (masyarakat, lembaga gerejawi, organisasi, pemerintah).
3.Memberikan pemikiran dan gagasan atas reksa pastoral paroki.

BAB VII
PENGURUS GEREJA DAN PAPA MISKIN

Pasal 44
Pengurus Gereja dan Papa Miskin (PGPM)

1.Pengurus Gereja dan Papa Miskin Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang, Yogyakarta adalah badan hukum berdasarkan Akta Notaris Angelique Tedjajuwana S.H. Nomor 28 Tanggal 23 Maret 2001
2.Personalia PGPM Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang ditetapkan dengan Surat Keputusan Uskup Diosesan atas usulan Dewan Paroki.
3.PGPM Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang melaksanakan keputusan Dewan Paroki.

Pasal 45
Kepengurusan
1.PGPM Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang terdiri dari 5 orang yang diambil dari fungsionaris Dewan Paroki.
2.Keanggotaan PGPM terdiri dari Ketua ex officio Pastor Paroki, Sekretaris, Bendahara I dan dua anggota.
3.Masa bakti kepengurusan PGPM Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang ditetapkan dengan Surat Keputusan Uskup atas usulan Dewan Paroki.

Pasal 46
Maksud dan Tujuan
1.Memelihara, mengurus dan mengelola harta benda milik PGPM Paroki Santo Alfonsus di Nandan, Gemawang yaitu semua kekayaan berupa benda yang bergerak maupun yang tidak bergerak.
2.Membina dan memajukan hidup keagamaan dan ibadat Gereja.
3.Menyelenggarakan karya-karya kerasulan suci dan amal kasih terutama bagi mereka yang berkekurangan.
Pasal 47
Tugas
1.Memastikan seluruh harta benda milik PGPM aman dan terlindungi secara hukum.
2.Memastikan harta benda Gereja diurus dan dikelola atas nama PGPM.
3.Membiayai dan membantu orang-orang yang termasuk dalam kategori Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir dan Difabel (KLMTD).
4.Mendirikan badan-badan kerasulan untuk menolong sesama.

BAB VIII
KARYAWAN PAROKI

Pasal 48
Karyawan Paroki

1.Karyawan Paroki St. Alfonsus di Nandan, Gemawang adalah orang yang bekerja untuk paroki/pastoran yang menerima imbalan jasa.
2.Berdasarkan hubungan kerja, status karyawan dibedakan menjadi karyawan tetap dan karyawan tidak tetap
3.Pedoman kekaryawanan Paroki diatur tersendiri berdasarkan Pedoman Kekaryawanan Paroki Keuskupan Agung Semarang yang berlaku.

BAB IX
MEKANISME PELAYANAN PASTORAL DEWAN PAROKI

Pasal 49
Suasana dan Pola pelayanan

1.Suasana pelayanan Dewan Paroki hendaknya menampakkan jiwa communio yaitu rasa tanggung jawab bersama berlandaskan semangat belarasa, persaudaraan, mengasihi secara tulus, sikap terbuka, dan berani menerima perbedaan demi kebaikan bersama.
2.Pola pelayanan Dewan Paroki menggunakan model Tim Kerja, Panitia Ad Hoc, komunikasi dua arah dengan semangat bersinergi antar Bidang dan antar Tim Kerja dalam Dewan Paroki serta berjejaring dengan masyarakat.
Pasal 50
Pengambilan Keputusan
1.Pengambilan keputusan dilakukan dengan jalan musyawarah untuk mufakat, sekurang-kurangnya dalam rapat Dewan Harian
2.Pastor paroki dapat menunda pengambilan keputusan atau menunda pelaksanaan keputusan dalam kapasitas sebagai wakil uskup yang memiliki kewenangan untuk menjaga otentisitas iman dan moral atau dalam hal yang terkait dengan ketentuan Hukum Gereja (bdk Kanon 753).

Pasal 51
Rapat
1.Rapat Dewan Paroki diselenggarakan untuk menjamin komunikasi antar anggota dan koordinasi pelayanan Dewan Paroki.
2.Jenis Rapat Dewan Paroki antara lain :
a Rapat Dewan Harian dilakukan minimal satu bulan sekali b Rapat Dewan Inti dilakukan minimal 3 bulan sekali
c Rapat Dewan Pleno dilakukan minimal setahun sekali dan Rapat Dewan Pleno dianggap sah jika dihadiri sekurang-kurangnya separuh anggota.
d Rapat Bidang dilakukan minimal satu bulan sekali
e Rapat Tim Kerja dilakukan minimal satu bulan sekali
f Rapat Koordinasi Ketua-ketua Wilayah dan Ketua-ketua Lingkungan dilakukan minimal satu bulan sekali
g Rapat khusus di luar pasal 45.2.2. dapat diadakan.

BAB X
TATA PELAYANAN PASTORAL PAROKI

Pasal 52
Spiritualitas Pelayanan Pastoral

1.Menghayati dan mewujudkan semangat Yesus Kristus sebagai :
a Gembala baik yang memberikan dirinya untuk melayani umat dan saling mengenal.
b Hamba yang mau membasuh kaki umatnya, melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang
c Pengurus yang setia dalam perutusan.
2.Mewujudkan semangat kemuridan sebagaimana dihayati oleh Gereja Perdana (Kis 2:41-47)
3.Mengambil inspirasi dan spiritualitas Santo Alfonsus Maria de Liguori sebagai Pelindung Paroki.

Pasal 53
Prinsip Pelayanan Pastoral
1.Pelayanan pastoral bertitik tolak dari realitas umat Paroki Santo Alfonsus Nandan yang meliputi aspek demografis kultural. ekonomi. geografis. dan sosial kemasyarakatan.
2.Pelayanan pastoral mengacu pada gerak pastoral keuskupan yang meliputi Arah Dasar dan Pedoman-pedoman yang berlaku di Keuskupan Agung Semarang.
3.Terbuka pada dinamika Gereja universal.

Pasal 54
Buah Pelayanan Pastoral
1.Iman umat semakin teguh dan mendalam
2.Persekutuan umat beriman semakin berkembang
3.Karya evangelisasi atau karya misioner semakin meluas dan berkembang.
4.Kesaksian iman atau martyria semakin terwujud di tengah masyarakat.

Pasal 55
Tata Pelayanan Pastoral Paroki
Tata pelayanan pastoral paroki meliputi Tata Penggembalaan, Tata Kelola Administrasi dan Tata Kelola Harta Benda.
Pasal 56
Tata Penggembalaan
1.Tata penggembalaan mencakup pengelolaan pastoral secara umum dan sistem kepemimpinan pastoral paroki.
2.Sistem kepemimpinan pastoral paroki menganut azas melibatkan, mengembangkan, mencerdaskan dan memberdayakan.
3.Tata Penggembalaan Paroki meliputi :
a Bidang Liturgi dan Peribadatan (leitourgia) meliputi perayaan sakramen-sakramen dan sakramentali serta devosi-devosi. Pelayanan sakramen ekaristi juga dirayakan di tiap lingkungan secara terjadwal.
b Bidang Pewartaan dan Evangelisasi (kerygma) meliputi pendalaman dan pengembangan iman, katekese, pembinaan rohani umat semangat misioner serta martyria. Pelayanan sakramen baptis dewasa dilaksanakan dalam 3 tahap.
c Bidang Pelayanan Kemasyarakatan (diakonia) menyangkut pelayanan kepada masyarakat. kaum KLMTD serta pelestarian dan keutuhan ciptaan.
d Bidang Paguyuban dan Persaudaraan (koinonia)meliputi pengembangan kelompok-kelompok yang berbasis paroki dan tidak termasuk kelompok kategorial.
e Bidang Rumah Tangga yang meliputi inventarisasi, pemeliharaan gedung dan kompleks gereja, serta pelayanan rumah tangga paroki dan pastoran. Penambahan bangunan dan sarana prasarana harus berpedoman pada masterplan.
f Bidang Penelitian dan Pengembangan meliputi pendataan umat dan pengembangan paroki yang ter update 1 tahun sekali
Pasal 57
Tata Kelola Harta Benda
1.Tata kelola harta benda adalah penataan harta benda milik paroki baik yang bergerak maupun tidak bergerak meliputi keuangan dan segala aset paroki.
2.Penatakelolaan harta benda meliputi usaha untuk mencari, mendapatkan, mengelola, mengalih-milikkan dan mempertanggungjawabkan berdasarkan ketentuan kanon 1254. Pedoman Keuangan dan Akuntansi Paroki, Petunjuk Teknis Keuangan dan Akuntansi Paroki, Program General Ledger (GL) dan Pedoman atau pengaturan lain yang berlaku di KAS.
3.Prinsip tata kelola harta benda : transparan (terbuka), akuntabel (ada bukti-bukti transaksi yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan dan kredibel (dapat dipercaya).
4.Penanggungjawab harta benda adalah Pastor Paroki.
5.Pelaksanaan tata kelola harta benda adalah Dewan Harian.

Pasal 58
Pengelolaan Keuangan
1.Keuangan paroki dikelola berdasarkan RAPB untuk mendukung program kerja yang disahkan oleh Dewan Paroki menurut ketentuan Keuskupan Agung Semarang diserahkan ke Keuskupan Agung Semarang di awal tahun
2.Keuangan paroki dimanfaatkan berdasarkan RAPB atau kebutuhan paroki yang telah mendapat persetujuan dari Dewan Harian atau keuskupan
3.Keadaan keuangan paroki wajib dilaporkan ke keuskupan setiap bulan sebelum tanggal 10 (sepuluh) di bulan berikutnya
4.Uang disimpan di bank atas nama PGPM Paroki Santo Alfonsus Nandan serta kas kecil. Besaran kas kecil ditentukan oleh Dewan Harian.
5.Penerimaan dan/atau pengeluaran dana dalam jumlah yang besar diperlukan izin Uskup.
6.Pastor Kepala sebagai Ketua Dewan Paroki bertanggungjawab atas Laporan Keuangan kepada Uskup dan Dewan Pleno

Pasal 59
Tata Kelola Administrasi
1.Tata Kelola Administrasi adalah pencatatan, pelayanan dan pengelolaan dokumen-dokumen penting terkait dengan pelaksanaan pelayanan pastoral paroki.
2.Prinsip tata kelola administrasi paroki akurat-lengkap, aman, rapi, dan mudah diakses.
3.Tata kelola administrasi meliputi:
a.administrasi kelembagaan, antara lain, izin pendirian bangunan, sertifikat, MoU, historia domus dan historia parociae.
b.Administrasi pelayanan sakramental meliputi pencatatan antara lain dalam buku Baptis. Perkawinan. Penguatan. Komuni Pertama, Pengurapan Orang Sakit, dan Kematian (bdk. kanon 535);
c.Administrasi pengarsipan antara lain surat menyurat, pendataan, dan daftar inventaris
d.Penanggung jawab administrasi adalah Pastor Paroki.
e.Pelaksana tata kelola administrasi adalah Pastor Pembantu (jika ada) bersama sekretaris Dewan Paroki dan sekretaris Kantor Paroki.

BAB XI
L A I N – L A I N

Pasal 60
Pergantian Jabatan dan Pengurus

1.Pergantian jabatan dan pengurus dituangkan dalam Bcrita Acara Serah Terima Jabatan yang berisi pernyataan mengenai peristiwa pergantian Pejabat atau Pengurus yang ditandatangani oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
2.Pengurus yang lama membuat Memo Jabatan yang diserahkan kepada Pejabat atau Pengurus Baru berisi antara lain refleksi dan laporan karya, berikut dengan laporan keuangan, print buku bank/rekening koran terakhir serta inventarisasi harta benda paroki lainnya.

Pasal 61
Kaderisasi dan Pemberdayaan
Dalam pergantian fungsionaris Dewan Paroki aspek kaderisasi dan pemberdayaan perempuan harus diperhatikan. Kaderisasi ini dilakukan untuk menjaga dinamika Dewan Paroki serta memungkinkan keterlibatan semakin banyak umat. Dinamika ini dilakukan dengan melibatkan orang baru, kaum muda, perempuan. serta memperhatikan faktor usia dan pembatasan periodisasi

Pasal 62
Penyegaran
Fungsionaris Dewan Paroki perlu mendapatkan penyegaran secara khusus sekurang-kurangnya setahun sekali. Pelaksanaan penyegaran dapat berupa rekoleksi, retret, kursus, pelatihan, dan Iain-lain.


Pasal 63
Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki
1.Penyusunan Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki Nandan mengacu pada Pedoman Dasar Dewan Paroki Keuskupan Agung Semarang Tahun 2013.
2.Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki disahkan oleh Uskup dan dapat ditinjau kembali sesuai dengan perubahan situasi paroki dengan tetap mengacu pada Pedoman Dasar Dewan Paroki Keuskupan Agung Semarang
BAB XII
PENUTUP

Pasal 64
Hal yang Belum Diatur

Hal-hal yang belum atau tidak cukup diatur dalam Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki ini (Kekaryawanan Paroki, pengelolaan dana sosial, pengelolaan keuangan paroki) diatur dalam Pedoman tersendiri
Pasal 65
Masa Berlaku
Pedoman Pelaksanaan Dewan Paroki ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan dapat ditinjau kembali. Ditetapkan di …………………….

Pages