Apakah aku tulus berbagi dan peduli?



R3. Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus memuji janda miskin yang memberikan sedekah/persembahan dari kekurangannya. Dengan penuh ketulusan hati, janda itu memasukkan uang persembahan. Dia tidak memikirkan diri sendiri dan problem hidupnya. Dalam hidupnya yang serba kekurangan, dia justru memikirkan orang lain. Dia ingin meringankan beban sesamanya. Dia sungguh percaya pada kasih Allah dan penyelenggaraan-Nya. Janda miskin itu mempunyai iman yang mendalam dan kokoh; iman yang dikuasai oleh kerelaan, kegembiraan serta semangat dalam mencintai Tuhan dan sesama.

Ingatlah akan Injil Suci Minggu, 4 Novembr 2018 yang lalu saat Tuhan Yesus bersabda kepada ahli Taurat yang bertanya tentang hukum manakah yang paling utama? Tuhan Yesus bersabda, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan. Dan perintah kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini” (Mrk 12:30- 31). Perintah kasih itu menjadi nyata dalam diri janda miskin itu. Meskipun terkesan kecil, remeh dan sederhana atas apa yang dilakukannya, tetapi tindakannya itu sebetulnya mengandung makna yang begitu dalam dan besar! Mengapa? Karena semuanya itu dilakukan atas dasar kasih yang tulus dan iman mendalam.

Janda yang miskin materi tetapi ternyata kaya dalam semangat peduli dan berbagi menyadarkan kita semua untuk bertanya diri: “Apakah aku tulus berbagi dan peduli? Apakah selama ini aku malah sering memberikan sisa-sisa waktu, hidup dan apa yang kupunyai ataukah aku telah mempersembahkan diriku (pikiran, hatiku, tenaga/kemampuanku) sepenuhnya untuk Tuhan dan sesama dengan tulus dan gembira?”*** d2t

Pages