Live In Remaja Katolik Nandan di Asrama Helen Keller, Aku Mau Peduli Dan Berbagi

Foto bersama sebelum pergi ke gereja Kidul Loji


Warta Paroki.Kita selalu hidup dalam perjumpaan dengan orang lain. Perjumpaan dan kebersamaan itu tidak jarang menyadarkan kita bahwa ada banyak teman yang situasinya berkekurangan. Kekurangan itu bisa tampak misalnya dalam ketidakmampuan ekonomi, keterbatasan pengetahuan dan kesempatan belajar, serta banyak hal lain. Berhadapan dengan situasi yang kerap kali berbeda, remaja katolik dipanggil untuk berani peduli dan berbagi dengan siapa pun yang berkekurangan. Kita bisa memberikan waktu, perhatian, energi, pemikiran, pengertian, pujian dan ucapan terima kasih, bahkan bisa juga sekedar memberi senyuman.

Dengan mengikuti teladan Yesus yang mau peduli dan berbagi, diharapkan para remaja bisa mengembangkan kepedulian social untuk saling membantu sesama yang membutuhkan bantuan.

Bersamaan pula dengan BKSN 2018 yang bertemakan “Mewartakan Kabar Gembira dalam Kemajemukan”, Pendamping Iman Remaja (PIR) Paroki St Alfonsus Nandan mengajak beberapa remaja untuk melakukan aksi nyata dengan mengadakan Live In di Panti/Asrama SLB/G-AB Helen Keller Indonesia selama dua hari satu malam (8-9/9/2018).

Para remaja yang mengikuti live in diantaranya Desi, Reza, Gusti, Agnes, Rosa, Rico, Anang, dan Jonathan, serta di damping bunda Nita, bunda Erny dan pak Seno.

Selama live ini mereka berdinamika bersama teman-teman di asrama, bermain, menyapu, mengepel, cuci piring, membantu ganti baju, belajar Bahasa isyarat dan semua kegiatan tersebut sebagai wujud dari kepedulian mereka kepada teman-teman yang KLMTD.

Berikut refleksi para remaja yang mengikuti live ini :

Benedictus Rico Dwi S, kelas 8
Pada hari pertama, saya tiba di SLB Helen Keller, disana belajar banyak hal, salah satunya yaitu belajar Bahasa isyarat dan  saya mendapatkan banyak teman. Pada hari kedua saya pergi ke gereja St Fransiskus Xaverius Kidul Loji bersama teman-teman asrama, kemudian sepulang dari gereja saya istirahat sejenak dan kemudian bermain sepak bola, walaupun lelah tapi hati kami senang.




B. Goesti Setyo K.S , kelas 8
Hari sabtu 8 September 2018 PIR Nandan menuju asrama SLB Helen Keller, saya sampai di asrama pukul  16.45 wib.  Pertama saya tiba di asrama, saya merasa deg-degan, lama kelamaan saya mulai terbiasa.  Pada malam hari saya belajar Bahasa isyarat.  Di asrama saya bisa tidur dengan nyenyak.
Di hari kedua saya bangun pukul 04.00 wib, kemudian mandi pagi dan mempersiapkan diri untuk mengiktui misa di gereja St Fransicus Xaverius Kidul Loji.  Kami berangkat menggunakan go car, sepulang dari gereja kami makan pagi.

Jonathan, kelas 5
Pertama kali saya senang sekali karena bisa bertemu orang yang membutuhkan.  Saya juga bisa Bahasa isyarat.  Anak-anak di asrama banyak yang membutuhkan pehatian, ada yang tidak bisa mendengar, tidak bias bicara dan lain-lain.

Asrama Helen Keller memiliki fasilitas yang bagus, banyak kamar dan ada ruang pakaian buat anak-anak asrama.





Reza, kelas 9
Hari sabtu, 8 September 2018 saya ke asrama SLB Helen Keller bersama tujuh teman dan tiga pendamping dalam rangka live in PIR Paroki Nandan.  Saat sampai kami disambut dengan baik oleh teman-teman asrama Helen Keller, dan langsung diajak ke kamar yang disiapkan untuk kami, kamar tidur perempuan ada dilantai bawah, dan kamar tidur laki-laki ada dilantai atas.

Setelah itu kami membantu menyiapkan makan malam, dan menemani teman-teman makan, kami juga diajari beberapa bahsa isyarat oleh pak Joko pendamping asrama, serta diajari sendiri oleh teman-teman asrama Helen Keller.

Hal yang membuat saya terkesan adalah saya dapat melihat kerjasama dan juga saling melengkapi diantara mereka.  Itu adalah hal yang sederhana namun luar biasa bagi saya, suatu pengalaman yang tidak terlupakan dan akan menjadi pelajaran dalam kehidupan saya.

“Tidak ada hidup yang sempurna,, kebahagian dan ketulusanmu itulah kehidupan paling sempurna”

Anang, kelas 5
Saya bisa belajar bahsa isyarat, bisa bertemu anak yang berkebutuhan khusus.  Aku bisa belajar mandiri, disana tempatnya bernama Helen Keller, di sana aku bisa menginap, serta pergi ke gereja Kidul Loji.  Aku senang karena baru pertama kalinya.

Rosa, kelas 6
Pada saat saya sampai di asrama Helen Keller, saya dan teman-teman diajarkan bahsa isyarat dengan pendamping asrama, sesudah itu kami membantu menyiapkan dan memakaikan baju anak-anak.  Sesudah itu kami menyiapkan makanan dan kami duduk disamping anak-anak untuk menemani mereka makan.

Sesudah selesai kami mencuci piring bersama-sama, setelah makan kami menonton tv bersama, bernyanyi dan berdoa bersama.

Paginya saya mandi dan pergi ke gereja Kidul Loji.  Sesampai di asrama saya dan teman-teman menyiapkan makan dan setelah selesai makan kami mencuci piring bersama.   Kemudian kami bersenang-senang di teras, seperti bermain ayunan, jungkat-jungkit, bola, belajar bahasa isyarat dan lain-lain.

Agnes, kelas 6
Pada hari sabtu di asrama Helen Keller kami belajar Bahasa isyarat, kami juga menggantikan pakaian adik-adik di asrama, kami menemani mereka makan malam, membantu cuci piring.  Setelah itu kami semua berkumpul di aula.  Setelah itu kami makan malam dan mencuci piring kami sendiri.
Saat kami kembali ke aula, anak-anak asrama telah sudah masuk ke kamar masing-masing, diaula kami menonton tv dan makan camilan, setelah itu kami menuju ke kamar masing-masing dan tidur karena sudah mengantuk.

Pagi harinya kami bangun jam 05.00 wib, mandi lalu pergi ke gereja St Fransiskus Xaverius Kidul Loji, kami berangkat naik Go Car. Setelah misa selesai misa kami kembali ke asrama, kami sarapan dan mencuci piring, setelah itu kami pergi teras untuk bermain bersama dan makan snack.  Kami diteras juga belajar Bahasa isyarat, setelah itu kami berkumpul di aula menonton tv. Anak-anak asrama makan siang dan kami memuat refeksi.

Perasaanku senang, aku belajar mandiri, membantu orang lain dan belajar untuk mensyukuri apa yang sudah diberikan kepadaku.  Aku harap, live in ini bias membuatku lebih baik dari sebelumnya.

Desi, kelas 9
Hari sabtu 8 September 2018, saya bersama teman-teman PIR pergi ke asrama Helen Keller.  Sesampai disana kita disambut oleh suster Magda, anak-anak asrama dan pendamping.

Setelah kita merapikan barang-barang kita dikamar, lalu makan malam.  Pada hari selanjutnya kami bangun jam 05.00 wib. Jam 06.00 wib kami membantu anak-anak panti dengan mempersiapkan makan pagi.

Jam tujuh kita bersama-sama pergi ke gereja Kidul Loji, setelah misa selesai kami semua pulang ke asrama melanjutkan kegiatan hingga pukul 13.00 wib.

Perasaan saya yang pertama itu senang karena saya bisa belajar untuk bersabar dengan tingkah laku anak-anak asrama.  Lalu saya juga merasa harus lebih bersyukur dengan apa yang kita punya, sebab masih banyak orang yang kekurangan dalam jasmani maupun rohani.

Demikian refleksi dari remaja yang mengiktui live in di asrama Helen Keller, terima kasih kepada suster Magda, para suster dan pendamping serta teman-teman di asrma.  #denblangkon

Galeri foto klik disini

Pages